Tuesday, October 15, 2019

Ketika kita berbangga hati

Ingat tidak euforianya masyarakat kita ketika seorang presiden Amerika Serikat dilantik dan ternyata beliau punya latar belakang berbau-bau Indonesia?
Mendadak semua kenangan masa lalu, semua tempat main, rumah lama, warung-warung jajan yang dulu pernah disentuh oleh beliau mencuat jadi bahan obrolan penuh kebanggaan.

Atau waktu satu nama Indonesia muncul di antara barisan animator film populer di credit titlenya? Membanggakan emang. Bahkan untuk ukuran komunitas rakyat yang kurang apresiasi, saya rasa kita sebenernya ngga kurang-kurang amat apresiasinya terhadap prestasi anak negeri.

Tapi apresiasi beda sama "fasilitasisasi" (ada ngga sih kata ini?) sih ya. Oke itu perbincangan lain.

Ini deh. Bukan hal yang basi kan kalo kita sangat protektif terhadap kekayaan dalam negeri.
Kain-kain batik yang dulu kesannya cuma dipakai orang tua, buru-buru dirombak image-nya karena kita ngga mau tetangga kita makin gencar mengklaim kesenian itu jadi semata-mata milik mereka. Atau tempe. Atau rendang. Atau tari-tarian. Tanah dan pulau juga.

Sungguh deh. Kita ini ngga kurang rasa cinta dan bangganya terhadap tanah air.

Senin pagi kemarin (10/14), diumumkanlah penerima Nobel prize untuk bidang ekonomi (https://www.theguardian.com/business/live/2019/oct/14/nobel-prize-in-economic-sciences-2019-sveriges-riksbank-live-updates). Beliau bertiga adalah pasangan suami-istri dari MIT, Esther Duflo dan Abhijit Banerjee, dan seorang dari Harvard, Michael Kremer.
Bukan bidang saya emang. Tapi yang menarik, Bu Esther dan Pak Abhijit ini begitu konsisten menggeluti area pengentasan kemiskinan, sejak lama, awal tahun 2000-an. Dan yang lebih menarik, ngga lama setelah pengumuman pemenang prize prestisius itu, di salah satu ruang chatting saya, yang isinya akademisi di bidang saya, menyinggung peraihan Bu Esther tersebut.
Salah satu postingannya sepertinya copy-paste dari postingan orang lain yang isinya kurang lebih: "tau ngga sih, Esther Duflo ini menang hadiah Nobel karena meneliti bagaimana implementasi SD INPRES di Indonesia bisa menaikkan derajat kemakmuran rakyat secara dramatis!".
Di ujung tulisan itu bahkan ada klaim bahwa, terlepas dari fakta itu merupakan program warisan rezim Orde Baru, orang-orang di balik pembangunan kita jaman dulu malah mengantarkan orang lain meraih Nobel. Tema serupa juga diangkat artikel ini: https://www.cnbcindonesia.com/news/20191015141348-4-107139/ekonom-as-pemenang-nobel-ternyata-bahas-sd-inpres-ri.

Benarkah? Kok kesannya kita ngga rela gitu sih.

Begini lho, Bu Esther ini ngga cuma mengadakan research field di Indonesia saja, Sodara-sodara. Beliau dan suaminya mendedikasikan diri mereka begitu dalam, luas, dan lama di area pengentasan kemiskinan itu. Pencapaian mereka berdua hingga titik Nobel prize Senin pagi kemarin bukan cuma karena laporan gimana SD INPRES di Indonesia jaman 70-80an berpengaruh terhadap ekonomi suatu negara berkembang. Dan sebenarnya buanyak banget tulisan mereka yang merupakan hasil research di negara-negara berkembang lainnya.
Jadi, apa yang beliau-beliau kerjakan di bumi nusantara di tahun 2000-an kala itu cuma "drop in the ocean".
Cek deh tulisan-tulisan beliau: https://economics.mit.edu/faculty/eduflo/papers.

Boleh lah kita berbangga hati. Atau bersedih karena sebenernya bukan cuma sekali atau dua kali ini ekosistem kita diteliti oleh non-pribumi dan mereka bisa menunjukkan laporan yang begitu compact, menyeluruh, dan relevan terhadap fenomena global. Boleh kita kecewa karena kebajikan dan kebijakan nusantara kita bukan membawa jalan berbunga-bunga untuk anak negeri sendiri. Kalau mau lebih bangga lagi, sepertinya kita musti lihat dan resapi baik-baik gajah di pelupuk mata sendiri deh.

Anyway, selamat Bu Esther dan Pak Abhijit, juga Pak Michael!

Saturday, July 13, 2019

Kalau kau suka hati, tepuk tangan!

Terlalu lama. Terlalu lama, Sodara-sodara.

Pagi tadi ada bahasan yang menggelitik saya untuk nulis postingan ini. Salah satu temen deket saya, dalam sebuah grup chat yang berisi empat orang temasuk saya, bertanya:
'Rek, apa sih yang bikin kalian excited, seneng, dan bergairah?'
Pertanyaan yang umum ditanyain orang-orang masa kini ya. Tapi kebetulan sekali saya belum pernah ditanyai secara langsung. Dalam berbagai fase hidup, mungkin jawaban saya terhadap pertanyaan itu akan berbeda-beda tergantung kapan saya ditanya. Dalam rentang waktu akhir-akhir ini, satu hal yang muncul pertama kali di kepala saya, sayangnya, adalah urusan kerjaan yang sebenernya ngga menyenangkan banget juga. Tanpa mikir dua kali saya jawab: 'Ketika riset berproges dan diacknowledge sama profesor.'


Hah. Menyedihkan ya? Tapi memang itu concern terbesar saya saat ini. Dan ketika Umik Profesor saya ngasih feedback baik dengan sentuhan pujian, meskipun sedikit banget serta amat sangat jarang, mood saya jadi luar biasa ceria. Seneng dan lega banget. Terus jadi semangat dan hopeful.
Harusnya semangat ini ngga malah bikin saya berprokrastinasi. Tapi, apalah daya begitu dapet feedback, rasanya saya pengen istirahat sejenak. Lalu 'isitrahat' ini menjadi sebuah jebakan betmen berujung nestapa. Haha.

Oke, balik ke pertanyaan temen saya tadi. Saya kaget waktu yang lain jawab bahwa sesuatu yang bikin mereka bergairah dan excited adalah hal-hal seperti dengerin lagu atau baca komik. Saya jadi sedih. Tepat saat itu saya mendadak menyadari bahwa saya mungkin kurang main. Bukan berarti saya ngga bersenang-senang, lho. Saya nonton film. Saya dengerin lagu-lagu dari penyanyi favorit saya. Tapi saya ngga merasa mendapat excitement dari sana. Setelah binging Stranger Things S3 di hari kemerdekaan Amerika Serikat minggu lalu misalnya, waktu nonton sih seneng. Tapi selesainya, jadi merasa bersalah.

Jadi intinya, mungkin saya aneh ya. Sepertinya saya harus bener-bener menikmati setiap detik setiap waktu untuk mencukupi kesenangan batin. Atau jangan-jangan teman-teman yang lagi berdarah-darah menuju ujung sekolah pascasarjana juga mengalami hal yang sama?


Saturday, February 16, 2019

Arimba dan Kereta Awan (satu)

Tidak ada siapapun di dalam gerbong dua siang itu, selain Arimba. Anak laki-laki kurus itu duduk sendirian di baris kedua kursi kereta yang terbuat dari kayu, sambil bertopang dagu, dan pandangannya menerawang keluar jendela. Ada yang tahu apa yang ada di pikirannya? Aku sendiri bertanya-tanya.

Pun tidak ada yang tahu kemana Arimba menuju. Sama halnya dengan kereta awan yang sedang ia tumpangi siang itu. Tidak ada yang tahu dari mana kereta itu berasal dan sampai kapan lima gerbong seputih awan itu akan melayang-layang berkeliling semesta. Kalian mungkin tidak ada yang pernah menyadarinya. Tapi aku sudah tidak lagi terkejut saat menengadah ke atas, mendongak pada langit yang sedang cerah dan mendapatkan kereta awan melintas di atas sana.

Saat sedang beruntung, aku bisa masuk ke salah satu gerbongnya. Seperti saat ini. Di dalam gerbong dua. Di mana Arimba, anak laki-laki berumur tidak lebih dari delapan tahun, duduk terdiam sambil sesekali menahan kantuk. Jelas dia tidak menyadari kehadiranku. Atau mungkin tidak peduli. Aku ingin bertanya ke mana ia akan pergi menakiki kereta ini.  Tapi sebelum aku sempat bersuara, tiba-tiba kereta awan berdecit panjang. Lalu berhenti. Gerbong-gerbong putih ini terdiam di tengah perjalanannya. Aku panik dan tanpa berpikir panjang aku ambil langkah seribu meninggalkan gerbong dua. Kereta awan berhenti. Ini bukan pertanda baik.

Dari luar aku masih dapat melihat Arimba, masih duduk di tempat yang sama. Hanya saja kali ini dia tidak mengantuk. Duduknya tegak dan waspada. Aku belum pernah melihat kereta itu berhenti di tengah udara begini. Tujuh ribu meter di atas ladang jagung di bawah sana. Aku masih mengamati Arimba yang kini berdiri dan berjalan menuju pintu penghubung gerbong satu. Tidak ada siapa-siapa di gerbong satu. Kalian mungkin heran kenapa aku tidak pernah menyebut-nyebut lokomotifnya. Mudah saja. Karena memang tidak ada. Arimba tahu itu. Karenanya dia tidak repot-repot melintas gerbong satu, melainkan berjalan menuju arah lain, penghubung gerbong tiga.

Tadinya gerbong tiga itu kosong. Tapi kini duduk sepasang kakek-nenek di salah satu barisan kursinya. Tampaknya mereka tidak peduli bahwa kereta tengah berhenti.  Atau.. jangan-jangan karena mereka lah kereta awan berhenti sejanak? Gerbong-gerbongnya kini mulai bergerak kembali. Arimba tersenyum dan berjalan kembali ke kursinya. Cepat-cepat aku menyusul laju kereta awan dan kembali bergabung bersama Arimba di gerbong dua. Lalu untuk pertama kalinya aku memberanikan diri menggapai kursi yang sedang kosong di sisi kanan Arimba, dan untuk pertama kalinya juga Arimba menyadari kehadiranku.

'Arumi?' Arimba bersuara, menelengkan kepalanya seolah pertanyaan itu ditujukan padaku.

Kukira dia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti saat kemudian dia bertanya lagi,

'Namamu, Arumi?'

Karena setelahnya aku tidak mengatakan apapun, sepertinya dia menganggap aku menyetujuinya.

'Akhirnya aku punya teman. Kau lihat kakek-nenek di gerbong tiga sana tadi? Mereka baru naik. Makanya tadi kereta berhenti sebentar. Beruntung sekali mereka bisa naik kereta bersama-sama. Beberapa waktu lalu aku ingin mengajak ibuku, tapi mereka bilang aku harus datang sendiri.'

Arimba ternyata bukan pendiam, tapi itu tidak lagi mengejutkanku. Sampai malam menjelang, Arimba bercerita banyak tentang segala hal tentang dirinya. Segala hal yang sebenarnya aku sudah tahu. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa, sehingga aku diam saja, mendengarkan ceritanya dalam suara kanak-kanak yang selalu aku rindukan. Lagipula, aku bisa apa.

'Apa menurutmu kita akan sampai sebelum matahari kelihatan lagi, Arumi?' tanyanya lagi.

Aku memandangi wajahnya yang mungil dan menyenangkan. Paling tidak, aku ingin menenangkannya dengan berusaha tersenyum, tapi Arimba tidak melihatnya. Bulan sabit di luar sana memang lebih menarik.

'Ibuku sering menyanyikan lagu tentang bulan sebelum aku tidur,' ucapnya lirih sambil kembali bertopang dagu dan memandang ke luar jendela.

Aku terpekik karena senang. Aku tahu lagu yang ibunya selalu nyanyikan. Ketika aku mulai bersenandung, Arimba membelalakkan matanya mengikuti gerakan tubuhku dan seketika itu kami bernyanyi bersama. Beberapa siang dan malam berikutnya adalah waktu-waktu yang tidak pernah mengecewakanku. Beberapa kali kereta awan berhenti beberapa menit untuk menaikkan penumpang. Meskipun belum pernah ada penumpang lain di gerbong kami, gerbong dua, kami tidak pernah merasa kesepian.

-- (bersambung)


Monday, October 15, 2018

melingkar

kita duduk melingkar
mengelilingi meja bundar
tangan dan kaki kita dingin
lalu kita saling bergenggaman jemari
tetap diam dalam gemerisik selimut dan penghangat

kita duduk melingkar
cahaya di ujung ruangan ini berpendar
dan salah satu dari kita berikrar
jangan berpisah
jangan pergi
kita bersama sampai mati

kita duduk melingkar
dan masih terdiam

Sunday, September 23, 2018

destinasi yang jalannya ngga ada di peta

Pagi ini, salah satu WhatsApp grup (WAg) saya yang isinya rekan-rekan saya sekantor di Surabaya lagi rame banget. Biasanya kalo rame gitu karena ada problematika genting yang ngga keburu kalo musti nunggu weekly meeting Kamisan, atau ada yang ulang tahun, atau ada yang mantu, atau ada yang menang grant penelitian, atau ada kabar duka. Kali ini ramenya karena ada salah satu senior, Bu Insan (salah satu role model saya nih), yang memulai diskusi dengan cerita sedihnya yang terjadi Jumat sore kemarin.

Inti ceritanya sih gini: di sore itu salah satu mahasiswa yang udah mau masuk tahun kedua berkunjung ke ruangan Bu Insan dalam rangka pamitan. Pamitan apaan? Pamitan mau hengkang dari sekolah kami karena dia barusan ikut seleksi masuk universitas lain dan diterima dan dia bulat untuk memulai kehidupan mahasiswanya di universitas lain itu. Jadi, dia ngga akan lanjut lagi sebagai siswa di kampus kami mulai semester mendatang. Dan percayalah Sodara, anak ini ngga sendirian. Tiap taun, selalu ada aja siswa yang memutuskan banting setir begitu mau masuk tahun kedua untuk enroll di kampus lain.

Dari 150 siswa yang setiap tahun datang untuk belajar bersama kami, di tahun berikutnya bisa jadi ada 20-an orang yang hengkang demi masa depan yang mereka anggap lebih baik. Ini yang membikin Ibu Senior saya itu bersedih hati. Emang bukan cerita baru sih, tapi setiap hal kaya gini kejadian, rasanya menohok sekali. Bukan apa-apa, mereka-mereka yang meninggalkan kami itu umumnya bukan mereka yang struggling secara akademik maupun keuangan. Dengan indeks prestasi (IP) di atas 3.6 di tahun pertama, kam sangat berharap mereka bisa menjadi motivasi untuk institusi dan rekan-rekan siswa yang lain.

Well, I know GPA is not everything you need to have a bright future. Tapi paling engga kita bisa lihat potensi anak-anak didik kita dari sana lah, sedikit banyak. Selain itu, dengan kepergian satu orang siswa, artinya akan ada satu kursi kosong di universitas negeri yang tersia-sia dianggurin gitu aja, sementara setahun lalu ketika mereka rebutan posisi ini lewat SNMPTN/SBMPTN, kompetisinya ngga main-main. Sayang amat.

Jadi, kenapa mereka pergi?

Wednesday, July 18, 2018

la luna ketika belajar bahasa asing (dua)

Setelah postingan yang terakhir soal siap-siap gempur Bahasa Inggris lagi itu, saya dapet beberapa masukan lagi dari temen-temen saya. Wah ternyata banyak banget yang saya lewatkan. Ini beberapa cerita mereka:

1. Dari Raisa
Temen saya ini punya suami seorang IT consultant di Malang. Jauh sebelum negara api menyerang, sang suami ini sama sekali ngga pede sama bahasa Inggris-nya. Tapi beliau pernah berkesempatan nyoba jadi pengajar komputer di salah satu sekolah kece di kota yang sama, yang mana bahasa pengantar belajar mengajarnya musti in English. Bukannya mundur, mungkin dengan tekad bulat, suami Raisa temen saya itu justru maju terus. Belajar sambil jalan. Akhirnya kebisaan itu terasah karena terpaksa dan biasa. Sekarang kalo diminta bikin modul workshop atau materi apa gitu dalam bahasa Inggris, beliau ngga pernah nolak. Raisa sendiri, temen baik saya ini, udah kenyang les bahasa Inggris dari kecil. Skor tesnya pun paling tinggi di antara kami berlima (eh apaan nih, kok lima? besok-besok deh saya ceritain). Tapi dia sendiri berani mengklaim kalo sekarang pun urusan korespondensi, dia mengandalkan suaminya untuk mereview dan ngoreksi. Sangar, ya?

2. Dari Ratih
Yang mirip-mirip datang dari Ratih. Waktu masih kuliah di Jakarta, dia pernah pengalaman ngasih les private untuk anak sekolah dengan (lagi-lagi) pengantar bahasa Inggris. Dia juga merasa keberaniannya untuk ngomong bahasa Inggris masih terbatas banget waktu itu, tapi dengan memaksa diri, akhirnya terpupuk juga kebisaannya.
Menurutnya, untuk anak kuliahan, memaksa diri untuk melahap buku teks berbahasa Inggris juga ngefek, lho. Tuh, buat temen-temen yang masih kuliah sarjana, jangan menghindari buku teks berbahasa Inggris. Selain merangsang kebisaan kita untuk bersinggungan dengan Inggris-an, juga membiasakan kita baca sesuatu langsung dari sumbernya dan bahasa aslinya.

3. Dari Widi
Temen deket saya yang satu lagi ini punya banyak pengalaman belajar bahasa Inggris yang dia share. Di antaranya kebiasaan untuk ngetik kata kunci di search-engine. Sekarang kan kita suka ngga bisa lepas dari Google-search ya, nah biasakan masukkan keyword bahasa Inggris, karenanya sumber-sumber informasinya biasanya lebih akurat dan terpercaya serta memaksa kita untuk baca teks Inggris juga.
Ada lagi. Jangan takut kalo disuruh-suruh berinteraksi sama orang asing, hajar aja. Waktu saya masih kerja di Jakarta dan Surabaya, saya juga suka kagok gitu kalo diminta escort orang asing di kantor saya. "Aduh, mau ngomong apa sayaah?" selalu bikin stres. Tapi sebenernya ini langkah mudah untuk dapet banyak hal positif: temen asing, koreksi kalo-kalo kita ada salah pengucapan, dan banyak lain lagi.

4. Dari Jeung Jeje
Beliau adalah temen saya waktu kita berjuang bersama dikarantina selama tiga bulan di Bandung untuk tes IELTS. Beliau mengakui kalo karantina itu efektif sangat meningkatkan sense of academic English-nya. Urusan ngobrol untuk beli sayur atau nanya arah itu bisa dibisa-bisain, tapi kalo udah academic English, kayanya porsi seriusnya musti gede banget. Ini mungkin ngga berlaku buat beberapa orang ya. Buat kami-kami yang sehari-hari selama berpuluh tahun cuma pakai bahasa Inggris kalo terpaksa aja ini, academic English itu sungguhlah tricky. Jadi seperti yang saya pernah sebut di postingan saya sebelumnya, ngedrill diri sendiri untuk persiapan tes kualifikasi bahasa Inggris (IELTS atapun TOEFL) bisa jadi langkah yang signifikan sekalian untuk persiapan diri menuju academic English yang akan merundung kita habis-habisan kalau nanti jadi sekolah di luar Indonesia.

5. Tentang eksperimen saya
Saya juga udah nyebut ini sebelumnya. Di tahun 2010 sampai 2013an, saya sempat berpikir seperti halnya prinsipnya Sherlock Holmes: kalau kita lagi terlalu dalam memikirkan sesuatu, adakalanya melakukan sesuatu yang sama sekali lain akan memberi kita pemahaman baru atas sesuatu yang kita pikir dalem-dalem tadi, kaya gimana beliau suka main biola waktu menghadapi kasus yang rumit, gitu. Saya jadi pengen nyoba-nyoba bereksperimen untuk belajar bahasa lain selain Inggris di awal-awal masa fresh-graduate saya itu. Awalnya bahasa Perancis. Aduh tapi saya kesulitan dapet sumber belajarnya yang menyenangkan (saya ngga mau les, orang tujuannya seneng-seneng). Kemudian beralih ke Jepang. Diawali dengan beli buku kotak-kotak buat belajar nulis Hiragana dan Katakana. Tapi, cih, lama banget saya bisa ngapalin semuanya. Oh, saya yang tak sabaran. Akhirnya karena saya juga lagi kecanduan SNSD (Girls' Generation, girl group favorit saya sampe sekarang) sama Super Junior (yes I am a second-gen k-popers) kala itu, saya belajar Hangul. Asli, gampang banget! Wahaha. Akhirnya selama beberapa lama saya belajar Korea, terutama baca-tulis aksaranya. Sekarang saya bisa lah baca caption di reality show dan lirik lagu, meski masih suka off buat ngerti artinya. Hehe. Saya ngga tau itu beneran efektif nge-boost skill Inggris saya apa engga sebenernya, soalnya skor TOEFL-like saya naiknya ngga seberapa juga. Tapi setelah beberapa lama saya belajar bahasa lain itulah saya menyadari kalau saya ngga perlu subtitle lagi saat nonton film-film Disney dan Pixar untuk pertama kalinya. Akk, saya seneng banget (haha maklum ya, udik).
Tapi soal belajar bahasa Korea ini yah, kayanya anak-anak perempuan jaman sekarang udah banyak banget yang melakukan hal serupa simply because they like (or love) it, bukan karena kewajiban ekskul atau apa. Kalo motivasi saya yang sesungguhnya sebenernya pengen suatu hari nanti ngga perlu nunggu subtitle lagi kalo mau nonton reality show kesukaan-kesukaan saya. Hehe, receh ya.

6. Dengerin pod-cast dan nonton TED Programs (atau sejenisnya)
Saya lupa banget nyebutin ini kapan hari. Saya juga baru-baru ini familiar sama pod-cast dan TEDx Talks. Favorit saya TED-Ed yang isinya animated video. Kalo pod-cast kan ada ya aplikasinya di hape kita. Modelnya kaya radio gitu, tapi mostly kita dengerin satu orang atau lebih ngemengin satu topik. Saya suka ngga betah sih. Wkwk.
Kalo TEDx Talks, di Indonesia juga banyak kampus yang ngadain, kalo mau bisa cari-cari info supaya bisa attend di salah satu event-nya. Tapi banyakan ya berbahasa Indonesia ya. Di websitenya ada banyak recording talks yang bisa dipilih. Topiknya beragam banget dari yang berat-berat macem CRISPR-Cas9 sampe mirip-mirip stand-up comedy. Favorit saya masih talks-nya Tim Urban ini.

Gitu deh. Kalo ada yang kurang-kurang lagi, mau dong dibagi. Sampai jumpah~


Sunday, July 15, 2018

Nyonya Maisel yang mengagumkan

Begitulah, kalo lagi ada kerjaan (banyak!) malah pengennya main mulu. Udah sebulan ini saya puasa Netflix. Tapi karena bawaan pengen mainnya ini yang ngga ketulungan tapi juga belum berani nyentuh-nyentuh Netflix, saya nyari apa yang ada di Prime Video. Buhahaha. Sama aja bodong. Kemudian saya lihat judul 'The Marvelous Mrs. Maisel'. Wow, saya pernah lihat trailernya dan nyangka kalo itu judul film yang bakal tayang 2018 di cinema. Ternyata itu series toh. Oke, let's give it a go, deh. Jadi di sinilah saya, nonton 'Nyonya Maisel yang mengagumkan' Season 1 dan sekarang udah ngga sabar nonton Season 2-nya.

Waktu lihat trailernya beberapa minggu lalu, saya udah kepikiran untuk menambahkannya ke watch-list. Udah ketebak kan, saya seneng banget tontonan-tontonan yang bau-bau girl-power gitu. Series komedi yang baru rilis 2018 ini fresh banget sih menurut saya. Mungkin karena saya yang terlalu lama terjebak sama series superheroes dan detektif-detektifan kali ya. Ceritanya juga hampir-hampir realistis. Series ini berkisah seputar cewek yang nama gadisnya Miriam Weissman, terus dinikahi sama cowok yang mimpi dan cita-citanya jadi comic (stand-up comedian), namanya Joel Maisel. Jadilah Midge, panggilan gaulnya Miriam, goes with Mrs. Maisel. Settingan ceritanya berlatar New York tahun 1950-an. Aseli, saya suka banget sama baju-baju, background music, juga model-model bangunan dan interior sepanjang series ini. Setelah pembukaan ba bi bu, sumber dinamika ceritanya muncul dari gimana sosok Midge ini bertahan, menjadi dan mencari dirinya sendiri setelah suatu malam Joel memutuskan untuk ninggalin dia dan dua anak mereka yang lucu-lucu (si Ethan baru mau empat tahun, dan Ester yang masih bayi).

Keluarga Midge, maupun Joel, ini sama-sama dari komunitas Yahudi yang cukup strict, mungkin termasuk generasi-generasi awal yang tinggal di Amerika ya (cmiiw, saya ngga tau menahu soal perjalanan sejarah komunitas-komunitas di US). Keduanya dari kalangan berada, yang kaya tapi ngga berlebihan juga. Bapaknya Midge ini profesor matematika di Columbia Uni (fangirl mode on: akkk! 😍), jadi pendekatannya waktu menghadapi anaknya sedang dirundung masalah keluarga cukup menarik juga ditilik dari keluarga Yahudi taat di era itu.


Friday, July 13, 2018

Putri Lala dan Ladang Pak Tua (dua)

Pak Tua merasakan sakit hati mengetahui bahwa anak di hadapannya benar-benar Putri Lala. Pak Tua tidak bisa tidak mengenali putri semata wayang raja yang memimpin kerajaan wilayah itu. Salah satu rumah peristirahatan kerajaan berada tidak jauh dari desa Pak Tua. Setiap sekali setahun, keluarga kerajaan akan menginap di sana untuk berlibur. Di masa-masa liburan itu, Pak Tua dapat melihat kereta kerajaan setiap hari melintas di depan gubuknya. Seringkali Putri Lala tidak berada di dalam kereta, tetapi berlari-larian di belakangnya atau di depannya ditemani beberapa pelayan yanyang juga bersuka cita. Itu merupakan pemandangan yang indah bagi warga desa setempat. Beberapa kali mereka berhenti di depan gubuk Pak Tua dan mampir untuk melihat-lihat ternaknya atau membeli beberapa hasil ladangnya. Mereka akan bilang untuk makan malam. Tidak hanya membeli dari Pak Tua, keluarga kerajaan juga seringkali mampir ke rumah warga desa yang lain. Putri Lala juga masyur akan betapa mudah ia berteman dengan anak-anak di desa itu. Karenanya sangat mudah mengenali Putri Lala, tidak hanya bagi Pak Tua tetapi juga warga desa lainnya. Bahkan dari kejauhan sekalipun.

Kebiasaan berlibur itu tidak lagi dilakukan sejak tahun lalu, kabarnya dikarenakan Putri Lala yang sakit. Mendapati Putri Lala malam itu berada di ladangnya, dalam keadaan lusuh, tanpa alas kaki. Pak Tua sangatlah terkejut. Sang Putri pastilah benar-benar tidak sehat. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi?

'Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?' Pak Tua menyuarakan pikirannya, setengah berbisik kemduian melanjutkan dengan tidak kalah pelan, 'Jangan mencuri, mari makan di dalam.'

Putri Lala dan Ladang Pak Tua (satu)

Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan kecil nan makmur, hiduplah Pak Tua yang tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil di desa paling selatan wilayah kerajaan. Perawakannya kecil tetapi masih lincah, meskipun usianya sudah tidak lagi muda. Istrinya sudah lama meninggal dan mereka tidak dikaruniai anak. Namun Pak Tua tidak pernah merasa kesepian. Gubuk yang ia sebut rumah boleh kecil dan seadanya, tetapi Pak Tua memiliki ladang yang luas sekali. Cukup untuknya menanam hampir semua kebutuhan hidup sehari-hari dan beternak beberapa ekor kambing dan ayam.

Baru-baru ini Pak Tua membangun pagar sederhana dari bambu dan memasangnya mengelilingi ladang dan rumahnya. Hal ini tidaklah lazim di desa tempat Pak Tua tinggal. Tetapi beberapa rumah juga melakukan hal serupa karena telah terjadi beberapa kali kasus kehilangan ternak di desa itu. Dalam satu bulan terakhir sudah ada lima rumah yang melaporkan kehilangan ternak dan sebagian hasil panen yang disimpan baik di dalam lumbung. Tidak ada yang tahu siapa atau apa yang membuat ternak-ternak itu menghilang. Beberapa tetangga Pak Tua mengaku melihat bayangan anjing yang sangat besar di malam mereka kehilangan ayam-ayam mereka. Salah seorang tetangganya yang lain, korban pertama di desa itu yang kehilangan hampir separuh jagung persediaan musim kemaraunya dari lumbung, melaporkan kehilangannya sambil membawa-bawa secarik kain merah. Dia mengaku mendapati kain itu di dekat lumbungnya dan menuduh tetangganya yang lain mencuri darinya. Tidak ada yang mempercayainya karena tidak ada seorang pun di desa itu yang layak dituduh atas tindakan-tindakan tidak manusiawi seperti mencuri. Kepala desa meyakinkan hal ini kepada semua orang tetapi kasus pencurian itu kemudian terjadi hampir setiap malam dan hal ini tidak membuat siapa pun lebih tenang. Terlebih lagi, si pencuri, apapun atau siapapun itu, tidak pernah meninggalkan jejak apa pun dalam setiap askinya -- kecuali mungkin kain merah itu, kalau memang benar itu milik si pencuri. Karenanya seluruh warga desa disarankan untuk selalu waspada, salah satunya dengan memasang pagar di sekililing peternakan mereka.

Wednesday, July 11, 2018

di bawah balkon, sebelum hujan

Katanya Ames jadi sering hujan. Engga juga sih. Saya baru balik dari mudik tiga harian lalu dan masih shock sama jetlag dan panasnya udara di luar. Padahal bagusan mah keluar yak, memulai hidup dan realita. Tapi bodinya masih lembek, kalah sama jetlag. Jadi di sinilah, mengurung diri, sok sok menunggu hujan yang kayanya ngga bakalan datang lagi di sisa-sisa summer ini.


Ada yang tahu gimana caranya mengembalikan semangat?

Tuesday, July 10, 2018

la luna ketika belajar bahasa asing

Seperti jargon salah satu iklan susu tanah air, bahwa "tiap anak, pintarnya beda-beda", saya percaya bahwa tiap orang akan tumbuh dengan kebisaan masing-masing. Mungkin kebisaan-kebisaan yang ngga bisa dibilang unik, tapi intinya ngga ada orang yang dilahirkan untuk menjadi bodoh seutuhnya lah.

Beberapa hari lalu saya ketemu sama salah satu temen kuliah semasa di Bogor, mari kita panggil dia Bin. Kami sempet lama banget hilang kontak setelah lulus sarjana dan sibuk masing-masing (sok sibuk, kalo saya sih), tapi kemudian akhirnya bisa lagi nyambung silaturahmi setelah saya mulai kerja di Surabaya. Bin ini dulu banyak sekali menginspirasi saya untuk menjadi problem solver yang baik. Yes, begitulah kalau saya diminta menyebutkan kebisaan temen saya ini yang paling menonjol selama saya mengenalnya: dia ini tergolong a deep-thinker dan bisa banget mengurai solusi sendiri. Mungkin itu juga salah satunya yang bisa bikin dia jadi ketua himpunan keprofesian mahasiswa di angkatan kami dan yang membawanya di posisi karirnya sekarang. Karenanya saya agak amazed juga waktu sore kemarin temen saya ini berbagi cerita, gimana dia pengen sekali lanjut studi di luar negeri tapi masih krisis pede atas bahasa Inggrisnya. Di momen yang sama dia sempet minta saran ke saya dan nanya apa aja yang saya pernah lakuin untuk belajar bahasa Inggris. Saya ngga bisa jawab spontan karena saya meragukan banget kalo temen saya ini ngga pede sama bahasa asing, apalagi bahasa Inggris. Orang yang hampir selalu saya jadiin referensi untuk beberapa hal baik dalam kehidupan dan merumuskan solusi-solusi untuk hal-hal yang pelik selama bertahun-tahun ini, nanya gimana belajar bahasa Inggris? Hah. Becanda kali.

Wednesday, June 13, 2018

la luna: yang lalu dan sekarang

Hai semua!

Musim panas katanya baru official dateng 21 Juni nanti. Plis deh. Udah hampir sebulan ini saya ngira kami udah berhadapan dengan summer, ternyata bukan, Sodara-sodara. Spring macam apa ini, udaranya panas, mataharinya silau, belum lagi heat-wave seminggu belakangan. Yang makin bikin saya takjub, di tengah-tengah 'nikmatnya' udara gelombang itu, ada hujan lho. Dan bukan sembarang hujan, tapi hujan es batu. Luar biasa. Masya Allah, sungguh. Bener-bener ya kita manusia-manusia khatulistiwa itu sungguh beruntung.

Terlepas dari itu, untungnya udah ngga ada kelas sih term summer ini. Akhirnya saya pun juga udah gabung di salah satu grup riset yang saya dambakan sejak saya masuk ke universitas ini tahun lalu. Ibu Profesor, selanjutnya akan kita panggil Bu Karina,  yang ngebimbing saya ini adalah orang yang sama yang pernah negor saya beberapa kali untuk get a grip pada kekuatan pikiran, ngingetin saya bahwa mungkin saya punya potensi tapi saya ini slow. Tapi I can't help but fall for her deeper, karena cara beliau menuntun saya pada kebenaran (cailah) sungguhlah jauh lebih indah dari apa yang pernah saya harapkan dari guru mana pun yang pernah saya temui. Minggu pertama saya musti setor PR ke beliau, dan saya ngerasa kaya lagi ujian lisan. Setiap kali ketemu beliau seminggu sekali itu, rasanya kaya ujian lisan. Sampai minggu lalu, akhirnya saya mulai get the hang of apa yang beliau coba bikin saya ngerti sejak beberapa kali pertemuan ke belakang. Yang saya baru sadari dari pertemuan terakhir dengan beliau, bahwa nulis fungsi probabilitas dengan titik koma antara komponen fungsinya aja udah keliatan banget bisa bikin beliau ceria. Luar biasa. Kalo gini saya jadi makin semangat nih ngerjain PR minggu depan: bikin summary dua paper yang judulnya aja saya ngga belom gitu paham. Hihi.

Ngomong-ngomong soal kepahaman atas sesuatu yang perlu kita pelajarin, pernah ngga sih kalian mencoba memahami hal baru dan di kesempatan pertama, ampun, susahnya minta ampun. Tapi ketika kita balik lagi setelah, entah mungkin dua bulan, setahun, atau dua tahun kemudian, hal-baru itu mendadak jadi gampang aja dicerna. Saya sering banget dulu begitu jaman sekolah. Yang paling nempel di memori saya ketika mata pelajaran Matematika kelas 4 SD dan kita diminta bikin PR tentang garis bilangan. Aishhh. Saya ampe minta ajarin Paman, tetangga, temen di kelas juga ngga nyantol-nyantol juga. Kere lah materi itu, saya ngga habis pikir aja ngapain kita ngitung lima ditambah minus enam. Itung-itungan macam apa itu. Pas SMP ketemu lagi sama materi yang sama, eh, ngga nyampe sejam.. ternyata gampang lho. Otak saya lemotnya gila ya, lagnya bertahun-tahun, Pemirsah. Haha.


Wednesday, May 23, 2018

la luna: ketika cahayanya tak kunjung tiba

Pernah kan ngerasa stuck? Kaya habis inspirasi gitu. Masih bisa mikir, masih seger, engga ngantuk, engga jenuh juga, tapi juga ngga produktif-produktif amat. Udah coba buka Google buat nyari jawaban (tapi malah browsing yang aneh-aneh! Haha. Ini sih ngelunjak.) Pokoknya ide itu rasanya jauuuh banget. Kepingan cahaya itu ngga nyampe-nyampe ke kepala kita.

Semakin nambah umur, saya makin sering ngerasain begini. Karena kerjaan saya banyakan ketemu rumus dan beberapa kali juga musti bikin coding, yang biar kata bisa di-googling tapi tetep kudu mikir juga, banyak banget kalanya saya stuck di satu problem dan susah move on. Kalau waktunya berlimpah sih enak, bisa take it slow. Tapi stuck itu ngga kenal waktu! Mau deadline kerjaan masih panjang, stuck-nya juga ikutan lama. Kadang kepikiran untuk woles aja.

Strip di atas didapet dari IG-nya Tahilalats, paporit!

Tapi ya kalo woles terus ngga beres-beres dong ah! Pegimana sih, Cup.

Beberapa tahun lalu ada yang pernah ngasih tahu saya kalo saya ini fast-learner. Weits, gede dong pala-nya dibilang gitu. Pujian itu cuma pernah saya denger sekali seumur hidup tapi efeknya lama, dan bikin saya percaya kalo saya emang orangnya cepet mempelajari hal-hal baru sampe sekarang. Padahal ya kenyataannya, banyak banget fenomena yang udah saya alami dan kontradiktif terhadap pujian itu. Tapi saya ngga mau mengakui kalo pujian yang mungkin dibikin ngga sengaja tersebut adalah salah besar. Haha. 

Dan minggu lalu saya dikasih tahu dengan sangat direct bahwa saya ini tipe orang yang belajarnya lama. Ngerjain apa-apa lama. Selain faktor suka nunda-nunda kerjaan, kebiasaan untuk nulis tangan dengan terlalu rapi itu menghambat saya untuk menyerap dan mencerna sesuatu dengan lebih cepet. Yang menyuguhkan penilaian ini guru saya sendiri dan menurut dia: belajar dengan pace yang lambat itu ngga salah sih, tapi artinya kudu menyediakan waktu yang ekstra juga untuk menampung semua kelemotan itu. Gitu lah kira-kira intinya. 

Jadi, it's OK to be slow. Just make sure we're getting there, and don't hesitate (atau lebih tepatnya: don't be shy) to get help. Dan yang paling penting, don't delay, Cup! Itu!

Monday, May 21, 2018

la luna: bicaralah, bercerita dan mendengar

Beberapa hari lalu saya ngintip episode pertama series 13 Reasons Why, hasil rekomendasi temen separtemen saya. Belum mulai episode 1, pembukaannya adalah remarks dari beberapa (mungkin semua) pemeran di series itu tentang pentingnya speak up, curhat tentang concern-concern yang dirasa berat di hati. Jangan dipendam sendiri lah intinya.

Saya bukan pendukung gerakan curhat sana curhat sini, apalagi kalau diumbar-umbar di media sosial. Apa tujuannya mengumbar kegalauan yang bakal dibaca orang banyak? Mereka ngga ada yang peduli. Yang ada mungkin nih, malah follower yang ngga deket-deket amat, kenal nama doang, tapi jadi baper waktu ngga sengaja baca curhatan kita. Karena, percaya deh, setiap orang pasti sedang bergelut dengan ujiannya masing-masing. Mending diem aja. Dan saya pernah posting tentang bermedia sosial dengan elegan. Dulu dan sekarang, saya masih berpegang teguh bahwa galau itu sejatinya dibuat-buat oleh kita sendiri.

Begitulah.

Sunday, May 20, 2018

la luna: kekuatan kepingan cahaya

Judulnya kaya anime-anime jaman dulu ya. Apa coba "kekuatan kepingan cahaya". Saya sendiri juga heran bisa-bisanya saya bikin judul cheesy begitu. Tapi biarin ah. Toh ngga ada yang baca ini. Hihi.

Udah nonton film pendek La Luna-nya Pixar? Nih saya kasih linknya, kalo ada yang belum nonton dan mau nonton:
Cuman 7 menitan kok.
Di deskripsinya sih ditulis begini:


Thursday, May 17, 2018

puasa

Selamat Ramadhan, semua!

Kalo udah menjelang tarawih pertama itu, rasanya kaya ngga berasa ada jeda antara Ramadhan taun lalu dengan Ramadhan yang ada di depan mata. Suka ngerasa gitu juga ngga? Alhamdulillah kita masih Dikasih nikmat sehat dan kuat untuk menyambut Ramadhan taun ini. Selamat sekali lagi ya..

Ini Ramadhan pertama saya nih di negeri jauh seberang. Waktu musim sajuan kapan hari, saya sempet nyobain rasanya puasa sehari-dua hari. Well, enak aja sih, matahari pas winter kan lebih pendek Sodara, jadi puasanya nikmat banget: dingin jadi ga hausan, dan jarak imsak-magribnya pendek. Haha. Nakal banget. Tapi kebetulan Ramadhan-nya sendiri jatuhnya pas summer. Kurang lebih mataharinya eksis 16 jam-an lah dalam sehari. Saya udah dapet sehari Ramadhan, dan hari pertama itu, alhamdulillah amaan. Masih ada 29 hari lagi, semangaaat!

Untungnya meskipun ini lagi masa-masa summer break, tapi sebenernya ngga break juga. Jadi kami tetep berkegiatan. Masih ngampus, ngerjain PR buat mulai riset, dan lain-lain.

Mungkin karena matahari yang tumpah ruah juga ya, mood saya jadi jauh lebih hype dibandingkan beberapa bulan lalu yang gloomy banget. Saya masih ngantukan sih, tapi paling ngga hawa-hawa positif dan optimis lebih kental di udara.

Semoga kita semua bisa konsisten berpositif-positif ria ya.

Untuk yang ketiga kalinya, selamat puasa :)

Saturday, May 5, 2018

tersinggungku, tersinggungmu

Bukan, bukan mau nyaingin lagunya Raisa + Isyana "Anganku, Anganmu", kok. Cuman emang terinspirasi dikit. Hoho.

Beberapa hari lalu temen seapartemen saya cerita tentang salah satu huru-hara per-group-an WA yang dia juga denger dari temennya. In short, suatu grup alumni universitas tertentu lagi ngobrol-ngobrol becandaan biasa gitu, tau-tau topiknya ngebahas tentang cewek-cewek yang belum nikah juga sampe batas waktu tertentu. Salah satu anggota grup itu, laki, berkomen (ini kurang lebih ya, saya lupa-lupa inget juga, intinya begini dah:) "Perawan tua itu ntar kalo udah laku ya tinggal ampasnya doang". Dengan remark itu, bisa kebayang respon dan atmosfernya ya kan. Begitu ada yang nyeletuk kalo becandaannya kejauhan, pihak yang merasa komentar pertama kadarnya biasa aja berlanjut dengan: "Duh kamu mainnya kurang jauh."

Gimana?
Masih kurang tergilitik?
Saya tambahin lagi.

Dari masa beberapa tahun lalu, ada acara komedi di TV channel nasional kan, yang opera-opera ituh. Yang para cast-nya suka main pukul-pukulan pake gabus, dorong-dorongan sampe jatuh guling-guling. Sesama cast aja sih. Dan itu bukan tren komedi baru, dari jaman Srimulat juga udah suka ada kelucuan-kelucuan yang munculnya dari "nyakitin" orang lain, ngga pake gabus sih, tapi sama polanya: bisa fisik, bisa juga verbal. Ketika mengejek jadi materi humor, dan diamini oleh semua yang nonton dan reaksi sejuta (lebih) umat ini diterjemahkan sebagai "oh orang-orang suka banget yang begini", akhirnya bahan-bahan komedi begitu ditambah porsinya. Sekarang jadi banyak acara TV yang semirip lenong, tapi isinya ngatain orang semua. Semua dikatain. Sesama cast, penonton, crew TV, orang-orang yang bahkan ngga ada di dalam acara itu juga. Konten ngatain ini juga ngga hanya muncul di acara spesifik komedi, tapi juga acara musik. Acara musik yang ditayangin pagi-pagi, ketika yang nonton TV jelas bukan anak-anak sekolah atau Bapak (dan/atau Ibu) yang lagi kerja. Saya bener-bener sakit mata dan telinga tiap ngelihat acara TV serupa-rupa ini. Dulu.


Tuesday, May 1, 2018

the most annoying person!

Pasti pernah dong ketemu orang yang begini.
Kenalnya mungkin sekedar tau aja, tapi begitu kontak atau ketemu, dih.. ngeselin banget. Entah kepo lah. Entah bawel ngomenin diri kita yang dia ngga tahu-tahu amat lah. Entah ujug-ujug curhat tentang masalah dia tanpa dia tahu kita juga lagi senewen sama masalah kita sendiri.
Atau mungkin sahabat atau orang terdekat kita, yang sebenernya kita sayang-sayang, tapi ada aja sisi nyebelinnya yang kambuhan.

Bagaimana kalau orang itu adalah kita sendiri?
We might not realize that we are actually annoying others. But, we are! Nah loh. Makin kesel dah tuh.

Saya baru aja baca artikel tentang kenapa orang-orang bisa segitu menyebalkan  dan tanda-tanda kalau kita ini dianggap biang keki teman-teman kita (well, ini less scientific sih, tapi.. yah, bisalah). The word 'clingy' actually has gotten me there. Saya itu ngga tahan ngga cerita-cerita tentang apa yang saya alamin selama seharian, concern-concern saya, kesenangan saya terhadap sesuatu. Wadahnya ada sih.. udah lama sekali saya nyadarin ini, makanya koleksi buku harian saya sejak jaman kuliah sampai sekarang udah ada 4 jilid. Dikit ya? Hihi.. saya berusaha cerita ke si-buku-harian ini sesering mungkin, biar ngga gitu banyak temen saya yang jadi korban kebawelan saya. Tapi apalah daya, sebenernya cerita ke benda mati itu hambaar. Dia ngga bisa ngasih tahu kalau saya salah, atau saya perlu berhenti melakukan sesuatu.

Setelah saya berjauhan dengan kampung halaman selama hampir setahun penuh ini, saya baru menyadari dengan sungguh-sungguh betapa saya ternyata masuk kategori orang-orang yang pengen dijauhin. No body wants me to be their friend. I am a loser, weakling, and does not have any ability to sympathize with other's issue. Itulah kenapa saya keluar dari sebagain grup yang saya ngga pengen ganggu lebih jauh lagi. Saya lagi menerapi diri sendiri nih, untuk ngga posting apa pun di grup mana pun yang saya ikutin sekarang. Ada satu senior yang masih berkontak-kontak intens dengan saya karena beliau sendiri juga mau nyusul sekolah di tempat saya sekolah sekarang. Tapi lama-lama mungkin saya mulai ganggu dia juga dengan kontak dia tiap hari nanyain kabar persiapan berangkat. Haha. What a low-life I have here.

Some people said I could come to them to talk, but they don't want to do the same with me, so what's the point?

Kalo ada award untuk 'the most annoying' person di hidup setiap orang yang mengenal saya, saya mungkin udah dapet tropi banyak banget.

Mungkin paling baik kita kembali ngerecokin diri sendiri aja ya.


Nambahin ini 11 jam kemudian:
Just found this article. Hmm menarik. Seperti biasa, kita sebenernya tau mana yang bener. Kadang suara negatif itu lebih kenceng gemanya daripada suara hati. Kita udah memupuk imun ketegaran dan keteguhan dan kemandirian selama ini, masa rontok begini aja. Yuk ah, semangat!


Monday, February 12, 2018

di bawah balkon, seperti Rangga

Sepertinya di kampung halaman saya lagi rame film Dilan dan Pak Presiden yang di-kartukuning-in sama ketua BEM kampus yang punya bikun, ya. Saya ngga baca sih buku Dilan itu. Saya udah tau lama soal novel Pidi Baiq ini tapi ngga pernah berani mulai baca karena antara (1) takut ketagihan, (2) takut kecawa. Dua alasan yang sebenarnya berlaku untuk hampir semua pertanyaan dalam hidup saya. Alasan yang sebenernya dibikin-bikin aja karena takut nyoba hal baru. Haha.

Menyoal baca novel, saya ini doyan banget sebenernya baca novel. Banget nget. Dari jaman sekolah dasar sampe lulus S1. Tapi setelah ambil master, sulit niat rasanya mau baca novel lagi. Saya masih doyan beli, tapi suka ngga pernah berhasil menuntaskannya. Bukunya Harper Lee yang To Kill a Mockingbird itu, saya udah mulai sampai beberapa lembar, terus mangkrak aja gitu. Dan itu bukan satu-satunya, ada beberapa episod lagi yang melibatkan ngga-selesai-baca buku kaya gitu. Tapi beberapa waktu lalu, saya jalan ke Arizona semasa winter break 2017. Karena ada masa-masa kami harus naik bis dan pesawat dan nunggu di terminal atau airport yang bikin saya kadang mati gaya, saya beli lah buku novel misteri Agatha Christie di bookstorenya Arizona State Uni. Univ of Arizona, di Tucson. Saya pilih seri yang saya belum baca, judulnya The Mysterious Affair at Styles, seri pertamanya Poirot. Dan say abegitu amazed dengan diri saya sendiri karena saya bisa baca tuntas buku itu dalam 3 hari selama perjalanan kalo pas lagi di bus, di mobil, atau lagi sendirian pas ngga ada orang yang diajak (lebih tepatnya: ngajak) ngobrol. Hehe.

Satu lagi kebiasaan yang udah lama ngga saya sentuh itu nulis puisi. Kalo nulis di buku diary sih, masih lumayan konsisten lah. Tapi nulis puisi ini, biar kata udah niat di depan laptop atau udah pegang pulpen mau nulis: kaga ada yang keluar dari benak maupun lubuk hati. Wkwk. Kayanya saya udah kehilangan sentuhan ke-Rangga-an saya nih. Sebenernya mungkin bisa aja kalo saya push sedikit lagi ya. Tapi biarpun jadi satu nih ya, feel-nya tuh ngga pernah semelegakan tulisan-tulisan saya jaman alay dulu. Jangan-jangan emang ada ya sesuatu yang terbaik dari diri kita yang munculnya hanya saat masa labil. Seperti Rangga gitu.

Saturday, October 28, 2017

di bawah balkon, mengabadikan daun merah

Akhir Oktober ini dinginnya luar biasa. Pagi tadi salju pertama turun melengkapi (atau merusak ya? haha) musim gugur tahun ini. Hidung saya udah mbeler-mbeler dari kemarin. Seharian ini saya ngendon aja di pojokan favorit saya di perpustakaan, orang-orang di bilik sebelah dan yang seliwar-seliwir banyak juga yang pilek-pilek. Pilek dan hidung srat-srot kaga rasis ya, semuanya diserang. Wkwk.

Dua mingguan ini pemandangan di sekitar kami mulai berubah. Pohon-pohon udah banyak yang meranggas; saya udah bisa ngelihat jalan raya di belakang apartemen kami dengan cukup jelas. Kalau biasanya antara gedung apartemen kami dengan jalanan dihalangi oleh pepohonan, sekarang rasanya kaya telanjang gitu. Enak sih, bisa lihat seberapa penuh bis-bis yang lewat hari ini. Hehe. Selain meranggas, daun-daunnya juga berubah warna jadi kemerahan. Merahnya macem-macem, ada yang kejingga-jinggaan, ada yang agak pink, macem-macem deh. Kalo udah merah banget gitu, siap-siap gugur lah dedaunan ini. Temen kantor saya di Surabaya, Mba Nay, semangat bet minta dibawakan daun merah bekas musim gugur ini. Saya bilang: "malas aahhhh". Wkwk. Jahat nian. Setelah dijawab begitu, profile picture socmednya dia ganti jadi taman bunga yang daun-daunnya warna merah gitu. Haha. Mba Nay ngambek euuuy. Ntar kalo saya pulang deh Mba Nay ya, tapi saya aja kaga tau pulangnya kapan. Huhu.

Saya engga mau berfilosofi apa-apa soal judul postingan ini. Emang harfiah banget kok, denotatif. Ngga hanya satu atau dua teman yang semangat minta dibawakan kenang-kenangan lucu dari sini. Ada yang minta titip dibelikan sepatu. Ada yang, kaya Mba Nay, minta disimpenin daun dari musim gugur, ada yang minta difotoin ruangan-ruangan mahasiswa yang sekiranya bisa dicontek di kantor saya di Surabaya. Saya ngga keberatan, sama sekali. Malah saya tersanjung. Justru keluarga inti saya ngga ada lho yang minta-minta titip begitu. Keluarga saya itu ngga banyak protes waktu saya mau merantau jauh. Sejak dulu kala. Buat mereka justru saya bingung kalau mau cari oleh-oleh. Karena mereka ngga antusias sama souvenir-souvenir gitu. Tapi setiap waktunya bangun sholat subuh atau saur, saya selalu ditelepon atau di-message. Haha. Ya iyalah pasti beda keluarga sama temen. Saya kangen sekali sama Ibu. Bapak. Dan dua adek saya yang jarang telepon atau saya telepon.

Nah kan. Ini pertama kalinya saya nangis dalam 3 bulan karena ngebahas keluarga. Dalam sebulan ini, kelompok mahasiswa Indonesia yang disponsori beasiswa yang sama di Amrik sudah dapat dua berita duka. Dua minggu lalu, ibu salah satu di antara kami meninggal. Pagi tadi, ayah salah seorang yang lain juga meninggal. Saya tahu cepat atau lambat itu juga bakal kejadian untuk saya, atau saya sendiri yang duluan pergi. Saya juga tahu, saya ngga akan pernah siap. Yang saya belum tahu, seberapa kuat saya nanti ketika saya sendiri mengalaminya. Waktu salah satu temen deket saya kehilangan Ibu beberapa tahun lalu aja, saya udah ngga kuat. Saya juga ikutan pulang kampung, bukan buat nyusulin temen saya, tapi buat ketemu Ibu saya di Jawa Timur (waktu itu saya kuliah di Bogor). Kadang saya nyesel juga suka pecicilan merantau begini. Berjauhan dengan orang-orang paling penting dalam hidup saya. Tapi dukungan mereka jauh lebih besar daripada kekhawatiran saya.

Mungkin karena kita ini cenderung ingin menunda hal-hal yang tidak kita sukai. Padahal ada banyak hal baik yang tidak kita sukai. Kalau ditunda terus, padahal ya ruginya diri sendiri. Eh, bukan 'kita', mungkin saya aja yang begitu. Procrastinator sejati.

Yang tabah ya Mba Yanti, Mba Isma, Bin.. semoga Ibunda Mba Yanti, Ayahanda Mba Isma, dan Ibu-nya Bin Dilapangkan kuburnya, Diampunkan segala dosanya, Dianugerahi tempat terbaik di sisi-Nya.

Pulang dari kampus nanti, mungkin sebaiknya saya pungut satu atau dua daun merah buat Mba Nay. Paling ngga saya udah simpen buat pulang, entah kapan.