Pagi ini, salah satu WhatsApp grup (WAg) saya yang isinya rekan-rekan saya sekantor di Surabaya lagi rame banget. Biasanya kalo rame gitu karena ada problematika genting yang ngga keburu kalo musti nunggu weekly meeting Kamisan, atau ada yang ulang tahun, atau ada yang mantu, atau ada yang menang grant penelitian, atau ada kabar duka. Kali ini ramenya karena ada salah satu senior, Bu Insan (salah satu role model saya nih), yang memulai diskusi dengan cerita sedihnya yang terjadi Jumat sore kemarin.
Inti ceritanya sih gini: di sore itu salah satu mahasiswa yang udah mau masuk tahun kedua berkunjung ke ruangan Bu Insan dalam rangka pamitan. Pamitan apaan? Pamitan mau hengkang dari sekolah kami karena dia barusan ikut seleksi masuk universitas lain dan diterima dan dia bulat untuk memulai kehidupan mahasiswanya di universitas lain itu. Jadi, dia ngga akan lanjut lagi sebagai siswa di kampus kami mulai semester mendatang. Dan percayalah Sodara, anak ini ngga sendirian. Tiap taun, selalu ada aja siswa yang memutuskan banting setir begitu mau masuk tahun kedua untuk enroll di kampus lain.
Dari 150 siswa yang setiap tahun datang untuk belajar bersama kami, di tahun berikutnya bisa jadi ada 20-an orang yang hengkang demi masa depan yang mereka anggap lebih baik. Ini yang membikin Ibu Senior saya itu bersedih hati. Emang bukan cerita baru sih, tapi setiap hal kaya gini kejadian, rasanya menohok sekali. Bukan apa-apa, mereka-mereka yang meninggalkan kami itu umumnya bukan mereka yang struggling secara akademik maupun keuangan. Dengan indeks prestasi (IP) di atas 3.6 di tahun pertama, kam sangat berharap mereka bisa menjadi motivasi untuk institusi dan rekan-rekan siswa yang lain.
Well, I know GPA is not everything you need to have a bright future. Tapi paling engga kita bisa lihat potensi anak-anak didik kita dari sana lah, sedikit banyak. Selain itu, dengan kepergian satu orang siswa, artinya akan ada satu kursi kosong di universitas negeri yang tersia-sia dianggurin gitu aja, sementara setahun lalu ketika mereka rebutan posisi ini lewat SNMPTN/SBMPTN, kompetisinya ngga main-main. Sayang amat.
Jadi, kenapa mereka pergi?
Inti ceritanya sih gini: di sore itu salah satu mahasiswa yang udah mau masuk tahun kedua berkunjung ke ruangan Bu Insan dalam rangka pamitan. Pamitan apaan? Pamitan mau hengkang dari sekolah kami karena dia barusan ikut seleksi masuk universitas lain dan diterima dan dia bulat untuk memulai kehidupan mahasiswanya di universitas lain itu. Jadi, dia ngga akan lanjut lagi sebagai siswa di kampus kami mulai semester mendatang. Dan percayalah Sodara, anak ini ngga sendirian. Tiap taun, selalu ada aja siswa yang memutuskan banting setir begitu mau masuk tahun kedua untuk enroll di kampus lain.
Dari 150 siswa yang setiap tahun datang untuk belajar bersama kami, di tahun berikutnya bisa jadi ada 20-an orang yang hengkang demi masa depan yang mereka anggap lebih baik. Ini yang membikin Ibu Senior saya itu bersedih hati. Emang bukan cerita baru sih, tapi setiap hal kaya gini kejadian, rasanya menohok sekali. Bukan apa-apa, mereka-mereka yang meninggalkan kami itu umumnya bukan mereka yang struggling secara akademik maupun keuangan. Dengan indeks prestasi (IP) di atas 3.6 di tahun pertama, kam sangat berharap mereka bisa menjadi motivasi untuk institusi dan rekan-rekan siswa yang lain.
Well, I know GPA is not everything you need to have a bright future. Tapi paling engga kita bisa lihat potensi anak-anak didik kita dari sana lah, sedikit banyak. Selain itu, dengan kepergian satu orang siswa, artinya akan ada satu kursi kosong di universitas negeri yang tersia-sia dianggurin gitu aja, sementara setahun lalu ketika mereka rebutan posisi ini lewat SNMPTN/SBMPTN, kompetisinya ngga main-main. Sayang amat.
Jadi, kenapa mereka pergi?