Sunday, September 23, 2018

destinasi yang jalannya ngga ada di peta

Pagi ini, salah satu WhatsApp grup (WAg) saya yang isinya rekan-rekan saya sekantor di Surabaya lagi rame banget. Biasanya kalo rame gitu karena ada problematika genting yang ngga keburu kalo musti nunggu weekly meeting Kamisan, atau ada yang ulang tahun, atau ada yang mantu, atau ada yang menang grant penelitian, atau ada kabar duka. Kali ini ramenya karena ada salah satu senior, Bu Insan (salah satu role model saya nih), yang memulai diskusi dengan cerita sedihnya yang terjadi Jumat sore kemarin.

Inti ceritanya sih gini: di sore itu salah satu mahasiswa yang udah mau masuk tahun kedua berkunjung ke ruangan Bu Insan dalam rangka pamitan. Pamitan apaan? Pamitan mau hengkang dari sekolah kami karena dia barusan ikut seleksi masuk universitas lain dan diterima dan dia bulat untuk memulai kehidupan mahasiswanya di universitas lain itu. Jadi, dia ngga akan lanjut lagi sebagai siswa di kampus kami mulai semester mendatang. Dan percayalah Sodara, anak ini ngga sendirian. Tiap taun, selalu ada aja siswa yang memutuskan banting setir begitu mau masuk tahun kedua untuk enroll di kampus lain.

Dari 150 siswa yang setiap tahun datang untuk belajar bersama kami, di tahun berikutnya bisa jadi ada 20-an orang yang hengkang demi masa depan yang mereka anggap lebih baik. Ini yang membikin Ibu Senior saya itu bersedih hati. Emang bukan cerita baru sih, tapi setiap hal kaya gini kejadian, rasanya menohok sekali. Bukan apa-apa, mereka-mereka yang meninggalkan kami itu umumnya bukan mereka yang struggling secara akademik maupun keuangan. Dengan indeks prestasi (IP) di atas 3.6 di tahun pertama, kam sangat berharap mereka bisa menjadi motivasi untuk institusi dan rekan-rekan siswa yang lain.

Well, I know GPA is not everything you need to have a bright future. Tapi paling engga kita bisa lihat potensi anak-anak didik kita dari sana lah, sedikit banyak. Selain itu, dengan kepergian satu orang siswa, artinya akan ada satu kursi kosong di universitas negeri yang tersia-sia dianggurin gitu aja, sementara setahun lalu ketika mereka rebutan posisi ini lewat SNMPTN/SBMPTN, kompetisinya ngga main-main. Sayang amat.

Jadi, kenapa mereka pergi?


Kita yang pernah lulus SMA, pasti familiar dengan naik-turunnya tensi menjelang ujian masuk universitas. Untuk beberapa orang, ada yang targetnya Ivy League versi Indo. Ada yang cukup beruntung kemudian mengurangi kursi saingan dengan lanjut sekolah ke luar negeri. Ada juga yang terlalu realistis dan ngga muluk-muluk yang penting kuliah. Universitas tempat saya kerja di Surabaya itu, yah bisa dibilang salah satu yang paling laris di region Indonesia timur. Dengan persaingan yang ketat untuk bisa enroll jadi mahasiswa di institusi kami, saya selalu merasa mereka yang datang di tahun pertama itu memang layak ditepuk pundaknya, diucapi selamat datang. Selamat berjuang.

Tapi, ketika mereka menimbang ada kesempatan yang lebih baik setelah mendapat kursi untuk jadi mahasiswa di universitas ini dan akhirnya pergi, meninggalkan kursi itu kosong, sedangkan mungkin di saat yang sama ada teman-teman seumuran mereka yang juga berharap mendapat kursi kosong itu. Ah~ ngilu.

Kita mungkin, saya sih, dibesarkan dengan cara-cara yang mengalir seperti air. Setiap keputusan dan pilihan yang kita ambil mungkin hampir selalu dijalankan sambil-sambil. "Lihat nanti lah," atau "Coba dulu deh, gimana ntar," atau "Mumpung ada nih, kali besok-besok bisa diganti," adalah frasa-frasa yang sering banget saya denger, bahkan dari mulut saya sendiri. Karenanya, ada banyak hal yang mungkin telah (dan akan) kita lakukan dengan sia-sia. Well, saya ngga nyumpahin sih. Karena setiap momen dan pengalaman itu berharga dan bisa jadi pelajaran yang berarti. Tapi ya mosok seumur hidup mau coba-coba dan gimana-entar.

Saya pengen ekstrak sedikit speech-nya Donggu Oppa waktu beliau ngasih kuliah umum di Ewha University beberapa tahun lalu (Ref: 2Days&1Night S3) : bahwa jalan hidup kita ini cuma kita yang bisa memetakannya, ngga bakal ada di GPS manapun. Trial dan error memang ngga akan bisa ditinggalkan, tapi kita bisa bikin optimasinya. Dengan apa? Dengan cita-cita dan strategi. Bukan berarti kita melulu khawatir akan hari esok, justru khawatir-khawatir itu datang karena kebanyakan dari kita ngga tahu kita mau ngapain.

Meskipun gitu, mungkin kita ngga akan bisa lolos dari kesia-siaan sih. Cuman paling engga kita ngga perlu menyia-nyiakan orang lain.

Hihi, ngomong apa sih. Gitu deh. Selamat bersiap-siap besok Senin!

(While we're at it, dari episod yang sama, ada pesen-pesen yang bagus banget menurut saya di sini)

2 comments:

  1. Replies
    1. Haha~ untuuuuuung. Lek sido tenanan, wah ga ngerti apa jadinya aku kini.

      Delete