Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan kecil nan makmur, hiduplah Pak Tua yang tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil di desa paling selatan wilayah kerajaan. Perawakannya kecil tetapi masih lincah, meskipun usianya sudah tidak lagi muda. Istrinya sudah lama meninggal dan mereka tidak dikaruniai anak. Namun Pak Tua tidak pernah merasa kesepian. Gubuk yang ia sebut rumah boleh kecil dan seadanya, tetapi Pak Tua memiliki ladang yang luas sekali. Cukup untuknya menanam hampir semua kebutuhan hidup sehari-hari dan beternak beberapa ekor kambing dan ayam.
Baru-baru ini Pak Tua membangun pagar sederhana dari bambu dan memasangnya mengelilingi ladang dan rumahnya. Hal ini tidaklah lazim di desa tempat Pak Tua tinggal. Tetapi beberapa rumah juga melakukan hal serupa karena telah terjadi beberapa kali kasus kehilangan ternak di desa itu. Dalam satu bulan terakhir sudah ada lima rumah yang melaporkan kehilangan ternak dan sebagian hasil panen yang disimpan baik di dalam lumbung. Tidak ada yang tahu siapa atau apa yang membuat ternak-ternak itu menghilang. Beberapa tetangga Pak Tua mengaku melihat bayangan anjing yang sangat besar di malam mereka kehilangan ayam-ayam mereka. Salah seorang tetangganya yang lain, korban pertama di desa itu yang kehilangan hampir separuh jagung persediaan musim kemaraunya dari lumbung, melaporkan kehilangannya sambil membawa-bawa secarik kain merah. Dia mengaku mendapati kain itu di dekat lumbungnya dan menuduh tetangganya yang lain mencuri darinya. Tidak ada yang mempercayainya karena tidak ada seorang pun di desa itu yang layak dituduh atas tindakan-tindakan tidak manusiawi seperti mencuri. Kepala desa meyakinkan hal ini kepada semua orang tetapi kasus pencurian itu kemudian terjadi hampir setiap malam dan hal ini tidak membuat siapa pun lebih tenang. Terlebih lagi, si pencuri, apapun atau siapapun itu, tidak pernah meninggalkan jejak apa pun dalam setiap askinya -- kecuali mungkin kain merah itu, kalau memang benar itu milik si pencuri. Karenanya seluruh warga desa disarankan untuk selalu waspada, salah satunya dengan memasang pagar di sekililing peternakan mereka.
Pak Tua sebenarnya belum pernah kehilangan ternak maupun hasil taninya karena dicuri. Pagar bambu yang dipasangnya hanyalah wujud tindakan waspada dan menghargai saran kepala desa. Pak Tua merasa bahwa mungkin si pencuri sudah tidak akan mencuri lagi karena dia sudah mengambil banyak sekali dari warga yang lain. Tetapi karena penasaran, malam itu Pak Tua berjaga di depan gubuknya sambil meneropong kandang ternaknya yang berjarak agak jauh dari gubuk Pak Tua. Lewat teropong yang tidak kalah tua itu, Pak Tua juga dapat melihat kandang ternak tetangganya, yang telah kehilangan dua ekor sapi jantan dua malam.
Malam semakin gelap dan dingin. Pak Tua tidak mengantuk sedikit pun. Degup jantungnya sedikit lebih kencang daripada biasanya karena gugup. Teropongnya sedang diarahkannya ke kandang tetangga ketika Pak Tua mendengar bunyi bergemeresek dari arah petak tanaman jagung di ladangnya. Petak jagung itu tidak lebih dari lima meter di belakang Pak Tua duduk saat itu. Pak Tua merasakan dingin luar biasa di tengkuknya, tapi keberanian yang asalnya tidak diketahuinya mendorong Pak Tua untuk mendekat ke arah bunyi tadi.
'Jangan beraninya mencuri dari kami. Ayo, sini,' ancam Pak Tua dengan suaranya yang ditegas-tegaskan.
Tidak ada jawaban. Tetapi Pak Tua mendengar suara terkesiap dari balik tanaman-tanaman jagungnya. Itu jelas bukan suara hewan.
Hanya berbekal teropong butut di tangannya, Pak Tua meraih tanaman jagung terdekat dan dan meyibakkannya. Tangannya yang lain mengayunkan teropong malang itu kuat-kuat, berharap dapat mengenai siapa pun yang Pak Tua kira bersembunyi di antara tanaman penyokong hidupnya. Tetapi betapa terkejut Pak Tua mengetahui bahwa penyebab bunyi berisik di ladangnya bukanlah hewan besar seperti yang ada di bayangannya semalaman ini, melainkan seorang gadis yang berdiri kaku dan berwajah pias ketakutan memandangi teropong yang hampir mengenai kepalanya.
Gadis itu sepertinya tidak lebih dari lima belas tahun. Dia sama sekali tidak terlihat seperti anak perempuan mana pun yang dikenal Pak Tua dari desa itu. Anak ini sepertinya sudah berkeliaran di luar sini cukup lama karena luaran merahnya sudah kehitam-hitaman, rambutnya seperti disasak di beberapa bagian, dan dia tidak mengenakan alas kaki. Tapi Pak Tua mengenali wajah gadis itu.
'Putri Lala?' Pak Tua merasa heran dengan pemandangan di depannya. Dia merasa akan sangat lega jika dugaannya salah.
'Kau tahu aku?' anak perempuan itu balik bertanya. Kali ini matanya yang tadinya ketakutan berubah menjadi penuh harap dan berbinar.
(bersambung ah)
Baru-baru ini Pak Tua membangun pagar sederhana dari bambu dan memasangnya mengelilingi ladang dan rumahnya. Hal ini tidaklah lazim di desa tempat Pak Tua tinggal. Tetapi beberapa rumah juga melakukan hal serupa karena telah terjadi beberapa kali kasus kehilangan ternak di desa itu. Dalam satu bulan terakhir sudah ada lima rumah yang melaporkan kehilangan ternak dan sebagian hasil panen yang disimpan baik di dalam lumbung. Tidak ada yang tahu siapa atau apa yang membuat ternak-ternak itu menghilang. Beberapa tetangga Pak Tua mengaku melihat bayangan anjing yang sangat besar di malam mereka kehilangan ayam-ayam mereka. Salah seorang tetangganya yang lain, korban pertama di desa itu yang kehilangan hampir separuh jagung persediaan musim kemaraunya dari lumbung, melaporkan kehilangannya sambil membawa-bawa secarik kain merah. Dia mengaku mendapati kain itu di dekat lumbungnya dan menuduh tetangganya yang lain mencuri darinya. Tidak ada yang mempercayainya karena tidak ada seorang pun di desa itu yang layak dituduh atas tindakan-tindakan tidak manusiawi seperti mencuri. Kepala desa meyakinkan hal ini kepada semua orang tetapi kasus pencurian itu kemudian terjadi hampir setiap malam dan hal ini tidak membuat siapa pun lebih tenang. Terlebih lagi, si pencuri, apapun atau siapapun itu, tidak pernah meninggalkan jejak apa pun dalam setiap askinya -- kecuali mungkin kain merah itu, kalau memang benar itu milik si pencuri. Karenanya seluruh warga desa disarankan untuk selalu waspada, salah satunya dengan memasang pagar di sekililing peternakan mereka.
Pak Tua sebenarnya belum pernah kehilangan ternak maupun hasil taninya karena dicuri. Pagar bambu yang dipasangnya hanyalah wujud tindakan waspada dan menghargai saran kepala desa. Pak Tua merasa bahwa mungkin si pencuri sudah tidak akan mencuri lagi karena dia sudah mengambil banyak sekali dari warga yang lain. Tetapi karena penasaran, malam itu Pak Tua berjaga di depan gubuknya sambil meneropong kandang ternaknya yang berjarak agak jauh dari gubuk Pak Tua. Lewat teropong yang tidak kalah tua itu, Pak Tua juga dapat melihat kandang ternak tetangganya, yang telah kehilangan dua ekor sapi jantan dua malam.
Malam semakin gelap dan dingin. Pak Tua tidak mengantuk sedikit pun. Degup jantungnya sedikit lebih kencang daripada biasanya karena gugup. Teropongnya sedang diarahkannya ke kandang tetangga ketika Pak Tua mendengar bunyi bergemeresek dari arah petak tanaman jagung di ladangnya. Petak jagung itu tidak lebih dari lima meter di belakang Pak Tua duduk saat itu. Pak Tua merasakan dingin luar biasa di tengkuknya, tapi keberanian yang asalnya tidak diketahuinya mendorong Pak Tua untuk mendekat ke arah bunyi tadi.
'Jangan beraninya mencuri dari kami. Ayo, sini,' ancam Pak Tua dengan suaranya yang ditegas-tegaskan.
Tidak ada jawaban. Tetapi Pak Tua mendengar suara terkesiap dari balik tanaman-tanaman jagungnya. Itu jelas bukan suara hewan.
Hanya berbekal teropong butut di tangannya, Pak Tua meraih tanaman jagung terdekat dan dan meyibakkannya. Tangannya yang lain mengayunkan teropong malang itu kuat-kuat, berharap dapat mengenai siapa pun yang Pak Tua kira bersembunyi di antara tanaman penyokong hidupnya. Tetapi betapa terkejut Pak Tua mengetahui bahwa penyebab bunyi berisik di ladangnya bukanlah hewan besar seperti yang ada di bayangannya semalaman ini, melainkan seorang gadis yang berdiri kaku dan berwajah pias ketakutan memandangi teropong yang hampir mengenai kepalanya.
Gadis itu sepertinya tidak lebih dari lima belas tahun. Dia sama sekali tidak terlihat seperti anak perempuan mana pun yang dikenal Pak Tua dari desa itu. Anak ini sepertinya sudah berkeliaran di luar sini cukup lama karena luaran merahnya sudah kehitam-hitaman, rambutnya seperti disasak di beberapa bagian, dan dia tidak mengenakan alas kaki. Tapi Pak Tua mengenali wajah gadis itu.
'Putri Lala?' Pak Tua merasa heran dengan pemandangan di depannya. Dia merasa akan sangat lega jika dugaannya salah.
'Kau tahu aku?' anak perempuan itu balik bertanya. Kali ini matanya yang tadinya ketakutan berubah menjadi penuh harap dan berbinar.
(bersambung ah)
No comments:
Post a Comment