Pak Tua merasakan sakit hati mengetahui bahwa anak di hadapannya benar-benar Putri Lala. Pak Tua tidak bisa tidak mengenali putri semata wayang raja yang memimpin kerajaan wilayah itu. Salah satu rumah peristirahatan kerajaan berada tidak jauh dari desa Pak Tua. Setiap sekali setahun, keluarga kerajaan akan menginap di sana untuk berlibur. Di masa-masa liburan itu, Pak Tua dapat melihat kereta kerajaan setiap hari melintas di depan gubuknya. Seringkali Putri Lala tidak berada di dalam kereta, tetapi berlari-larian di belakangnya atau di depannya ditemani beberapa pelayan yanyang juga bersuka cita. Itu merupakan pemandangan yang indah bagi warga desa setempat. Beberapa kali mereka berhenti di depan gubuk Pak Tua dan mampir untuk melihat-lihat ternaknya atau membeli beberapa hasil ladangnya. Mereka akan bilang untuk makan malam. Tidak hanya membeli dari Pak Tua, keluarga kerajaan juga seringkali mampir ke rumah warga desa yang lain. Putri Lala juga masyur akan betapa mudah ia berteman dengan anak-anak di desa itu. Karenanya sangat mudah mengenali Putri Lala, tidak hanya bagi Pak Tua tetapi juga warga desa lainnya. Bahkan dari kejauhan sekalipun.
Kebiasaan berlibur itu tidak lagi dilakukan sejak tahun lalu, kabarnya dikarenakan Putri Lala yang sakit. Mendapati Putri Lala malam itu berada di ladangnya, dalam keadaan lusuh, tanpa alas kaki. Pak Tua sangatlah terkejut. Sang Putri pastilah benar-benar tidak sehat. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi?
'Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?' Pak Tua menyuarakan pikirannya, setengah berbisik kemduian melanjutkan dengan tidak kalah pelan, 'Jangan mencuri, mari makan di dalam.'
Pak Tua menyibakkan tanaman jagungnya lebih lebar dan membiarkan Putri Lala melewatinya. Anak perempuan itu tampak tidak terawat, tapi jalannya masih tegap dan kuat seperti anak sehat pada umumnya. Ketika Putri Lala telah duduk di meja makan di dalam gubuk Pak Tua lalu memandangi roti, jagung dan tomat panggang, serta segelas air di hadapannya, Pak Tua bertanya lagi,
'Apa yang terjadi, Tuan Putri?'
Bukannya menjawab pertanyaan Pak Tua, Putri Lala mulai meraih makanan-makanan itu dan makan dalam diam. Pak Tua tidak lagi bertanya-tanya, melainkan hanya memandang kasihan kepada Sang Putri. Muncul dalam bayangannya jikalau dia memiliki seorang putri dan tiba-tiba setelah menghilang beberapa lama mereka bertemu lagi dan mendapati putrinya dalam keadaan seperti Putri kerajaan yang sedang melahap jagung tomat panggang itu, hatinya pasti pedih sekali.
'Mengapa semua orang memagari ladangnya, Pak Tua?' Putri Lala bersuara lagi untuk pertama kalinya sejak berada di dalam gubuk Pak Tua.
'Pencurian,' kata Pak Tua singkat. Pak Tua masih sangat penasaran dengan apa yang membuat Putri Lala yang mungil itu menjadi seperti sekarang.
'Tuan Putri, dengarkan saya baik-baik,' Pak Tua berkata dengan sangat serius, lalu melanjutkan, 'Telah terjadi banyak sekali kehilangan beberapa waktu ini. Kami tidak pernah tahu siapa pencurinya, atau apa yang membuat ternak-ternak di desa kami menghilang. Kami hanya mencurigai adanya binatang buas yang hanya datang setiap malam mengendap-ngendap di ladang kami dan melahap apa saja yang dimaunya tanpa jejak.'
Pak Tua berhenti sejenak untuk melihat reaksi Sang Putri. Rambutnya yang awut-awutan bergerak sedikit diterpa angin yang menyusup lewat jendela. Tapi matanya yang jernih, bergeming. Pak Tua tahu Putri Lala memahami apa yang sedang dikatakannya dan arah pembicaraan ini.
'Melihat Tuan Putri tiba-tiba muncul di desa kami seperti ini, dengan keadaan Tuan Putri begini.. saya khawatir Tuan Putri akan disangkutpautkan dengan pencurian-pencurian itu.'
'Tapi aku tidak mencuri, Pak Tua,' kata Putri Lala pelan sambil menundukkan kepala. Aneh sekali, seperti ada nada penyesalan di sana.
Pak Tua tidak bisa tinggal diam. Ini menyangkut keamanan negeri. Dia pergi meninggalkan gubuk setelah meminta Putri Lala untuk tidak pergi ke mana-mana dan mengambilkannya lebih banyak jagung tomat panggang. Tidak lama kemudian, Pak Tua kembali bersama kepala desa, Pak Sai dan istrinya, serta tetangga terdekat Pak Tua, namanya Pak Golai. Ketiga orang ini datang tergopoh-gopoh, bahkan Pak Golai, yang usianya tidak lebih muda daripada Pak Tua, seketika bersimpuh di sebelah Putri Lala dan memeluknya. Dulu, semasa Putri Lala sering berkunjung ke rumah-rumah di desa, rumah Pak Golai adalah favoritnya. Putri Lala dapat menghabiskan waktu seharian bermain bersama cucu-cucu Pak Golai dan Pak Golai menyayanginya seperti cucunya sendiri.
'Ceritakan apa yang terjadi, Yang Mulia. Kami akan mencoba membantumu,' Pak Sai bersuara.
'Aku merusak pagarmu Pak Golai. Maafkan aku,' kata Putri Lala sambil menatap Pak Golai yang memandangi Sang Putri dengan iba.
'Tidurlah di tempat kami malam ini, Yang Mulia. Besok pagi-pagi, kami akan mengantarkanmu kembali ke istana,' istri Pak Sai mencoba meyakinkan Putri Lala.
'Tentu saja. Terima kasih,' Putri Lala langsung bangkit berdiri. Makanan yang beberapa saat lalu ada di piring-piring di atas meja makan Pak Tua sudah tandas.
Pak Tua duduk berdiam diri merenungi apa yang baru saja terjadi. Putri Lala telah pergi menginap di rumah Pak Sai dan istrinya. Rombongan itu telah meninggalkan gubuk Pak Tua tidak lebih dari sejam yang lalu. Tapi Pak Tua masih tidak bisa menghilangkan bayangan Putri Lala yang berdiri kaku di tengah ladang jagungnya malam ini. Saat Pak Tua beranjak untuk pergi tidur, disadarinya luaran Putri Lala tertinggal di salah satu kursi tempatnya melahap makan malam tadi. Luaran berwarna mera kehitam-hitaman karena cemong itu sudah compang camping tidak karuan. Pak Tua berpikir mungkin besok pagi dia dapat mengembalikan kain itu kepada Putri Lala sebelum semuanya mengantarkan Sang Putri ke istana.
Tetapi rencana itu tinggallah rencana. Tepat setelah matahari menampakkan diri, Pak Tua mendengar gaduh-gaduh yang tidak biasa. Pak Tua baru saja bersiap-siap pergi ke rumah Pak Sai untuk ikut mengantarkan Putri Lala ketika Pak Golai berteriak memanggil namanya dengan wajah panik.
'Pak Tua! Mereka menemukan pencurinya!' teriaknya sambil berjalan terpincang-pincang karena mencoba berlari dari kejauhan.
Tak lama kemudian kedua petani itu berjalan menuju kerumunan warga desa. Di antara kerumunan itu ada Pak Sai dan istrinya. Raut muka mereka tampak sedih dan khawatir. Kerumunan itu terletak tidak jauh dari rumah peristirahatan keluarga kerajaan, tempat di sisi jembatan yang menghubungkan desa dengan laham rumah peristirahatan yang megah itu. Jembatan kayu itu cukup panjang, tetapi sangat kuat. Apa yang menjadi perhatian para warga bukan berada di atas jembatan kayu itu, melainkan di bawahnya. Parit yang cukup dalam itu tidak memiliki banyak air di musim kering begini. Karenanya sangat mudah melihat apa yang ada di dasarnya.
Pak Tua terkesiap begitu mengetahui apa yang menurut warga desa membuat ternak-ternak mereka menghilang. Seekor anjing yang sangat besar seukuran singa dewasa tergeletak di dasar parit. Salah satu kaki belakangnya berdarah-darah terkena parang salah satu petani yang menangkapnya semalam. Tetapi yang membuatnya kehilangan nyawa nampaknya bukan luka parang itu, melainkan lehernya yang patah membuat posisi kepalanya terpelintir aneh ke belakang. Pastilah hewan itu terjatuh dan melukai dirinya sendiri, dan mati.
Pak Tua merepet mendekati Pak Sai sambil menggenggam kain luaran baju Putri Lala di dekapannya.
'Putri Lala?' Pak Tua bertanya karena dia tidak melihat Sang Putri di mana pun di kerumunan itu.
'Pagi tadi kami berencana membangunkannya untuk memulai perjalanan sepagi mungkin, tapi kami tidak menemukannya di mana-mana,' ujar istri Pak Sai.
Pak Tua meremas kain luaran itu erat-erat. Tanpa sebab yang pasti, dia merasa geram sekaligus bersalah. Dia tidak berminat ikut serta bersama Pak Golai dan yang lain untuk mencari Putri Lala. Atau mengangkat bangkai anjing pencuri dari parit dan menguburnya. Pak Tua ingin segera kembali ke gubuknya dan beristirahat. Kejadian-kejadian itu membuatnya sangat letih dan sedih. Pak Tua melipat kain luaran Putri Lala yang tertinggal semalam dengan rapi dan menyimpannya di dekat tungku.
'Tentu saja jagung dan tomat panggang tidak akan membuatmu kenyang,' ujar Pak Tua kepada dirinya sendiri, sambil memandangi satu-satunya barang yang teringgal dari Sang Putri. Pak Tua tidak merasa ingin bekerja hari itu. Pak Tua merasa lelah sekali.
(inspired by 'The Truth Untold' and 'Red Riding Hood')
Kebiasaan berlibur itu tidak lagi dilakukan sejak tahun lalu, kabarnya dikarenakan Putri Lala yang sakit. Mendapati Putri Lala malam itu berada di ladangnya, dalam keadaan lusuh, tanpa alas kaki. Pak Tua sangatlah terkejut. Sang Putri pastilah benar-benar tidak sehat. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi?
'Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?' Pak Tua menyuarakan pikirannya, setengah berbisik kemduian melanjutkan dengan tidak kalah pelan, 'Jangan mencuri, mari makan di dalam.'
Pak Tua menyibakkan tanaman jagungnya lebih lebar dan membiarkan Putri Lala melewatinya. Anak perempuan itu tampak tidak terawat, tapi jalannya masih tegap dan kuat seperti anak sehat pada umumnya. Ketika Putri Lala telah duduk di meja makan di dalam gubuk Pak Tua lalu memandangi roti, jagung dan tomat panggang, serta segelas air di hadapannya, Pak Tua bertanya lagi,
'Apa yang terjadi, Tuan Putri?'
Bukannya menjawab pertanyaan Pak Tua, Putri Lala mulai meraih makanan-makanan itu dan makan dalam diam. Pak Tua tidak lagi bertanya-tanya, melainkan hanya memandang kasihan kepada Sang Putri. Muncul dalam bayangannya jikalau dia memiliki seorang putri dan tiba-tiba setelah menghilang beberapa lama mereka bertemu lagi dan mendapati putrinya dalam keadaan seperti Putri kerajaan yang sedang melahap jagung tomat panggang itu, hatinya pasti pedih sekali.
'Mengapa semua orang memagari ladangnya, Pak Tua?' Putri Lala bersuara lagi untuk pertama kalinya sejak berada di dalam gubuk Pak Tua.
'Pencurian,' kata Pak Tua singkat. Pak Tua masih sangat penasaran dengan apa yang membuat Putri Lala yang mungil itu menjadi seperti sekarang.
'Tuan Putri, dengarkan saya baik-baik,' Pak Tua berkata dengan sangat serius, lalu melanjutkan, 'Telah terjadi banyak sekali kehilangan beberapa waktu ini. Kami tidak pernah tahu siapa pencurinya, atau apa yang membuat ternak-ternak di desa kami menghilang. Kami hanya mencurigai adanya binatang buas yang hanya datang setiap malam mengendap-ngendap di ladang kami dan melahap apa saja yang dimaunya tanpa jejak.'
Pak Tua berhenti sejenak untuk melihat reaksi Sang Putri. Rambutnya yang awut-awutan bergerak sedikit diterpa angin yang menyusup lewat jendela. Tapi matanya yang jernih, bergeming. Pak Tua tahu Putri Lala memahami apa yang sedang dikatakannya dan arah pembicaraan ini.
'Melihat Tuan Putri tiba-tiba muncul di desa kami seperti ini, dengan keadaan Tuan Putri begini.. saya khawatir Tuan Putri akan disangkutpautkan dengan pencurian-pencurian itu.'
'Tapi aku tidak mencuri, Pak Tua,' kata Putri Lala pelan sambil menundukkan kepala. Aneh sekali, seperti ada nada penyesalan di sana.
Pak Tua tidak bisa tinggal diam. Ini menyangkut keamanan negeri. Dia pergi meninggalkan gubuk setelah meminta Putri Lala untuk tidak pergi ke mana-mana dan mengambilkannya lebih banyak jagung tomat panggang. Tidak lama kemudian, Pak Tua kembali bersama kepala desa, Pak Sai dan istrinya, serta tetangga terdekat Pak Tua, namanya Pak Golai. Ketiga orang ini datang tergopoh-gopoh, bahkan Pak Golai, yang usianya tidak lebih muda daripada Pak Tua, seketika bersimpuh di sebelah Putri Lala dan memeluknya. Dulu, semasa Putri Lala sering berkunjung ke rumah-rumah di desa, rumah Pak Golai adalah favoritnya. Putri Lala dapat menghabiskan waktu seharian bermain bersama cucu-cucu Pak Golai dan Pak Golai menyayanginya seperti cucunya sendiri.
'Ceritakan apa yang terjadi, Yang Mulia. Kami akan mencoba membantumu,' Pak Sai bersuara.
'Aku merusak pagarmu Pak Golai. Maafkan aku,' kata Putri Lala sambil menatap Pak Golai yang memandangi Sang Putri dengan iba.
'Tidurlah di tempat kami malam ini, Yang Mulia. Besok pagi-pagi, kami akan mengantarkanmu kembali ke istana,' istri Pak Sai mencoba meyakinkan Putri Lala.
'Tentu saja. Terima kasih,' Putri Lala langsung bangkit berdiri. Makanan yang beberapa saat lalu ada di piring-piring di atas meja makan Pak Tua sudah tandas.
Pak Tua duduk berdiam diri merenungi apa yang baru saja terjadi. Putri Lala telah pergi menginap di rumah Pak Sai dan istrinya. Rombongan itu telah meninggalkan gubuk Pak Tua tidak lebih dari sejam yang lalu. Tapi Pak Tua masih tidak bisa menghilangkan bayangan Putri Lala yang berdiri kaku di tengah ladang jagungnya malam ini. Saat Pak Tua beranjak untuk pergi tidur, disadarinya luaran Putri Lala tertinggal di salah satu kursi tempatnya melahap makan malam tadi. Luaran berwarna mera kehitam-hitaman karena cemong itu sudah compang camping tidak karuan. Pak Tua berpikir mungkin besok pagi dia dapat mengembalikan kain itu kepada Putri Lala sebelum semuanya mengantarkan Sang Putri ke istana.
Tetapi rencana itu tinggallah rencana. Tepat setelah matahari menampakkan diri, Pak Tua mendengar gaduh-gaduh yang tidak biasa. Pak Tua baru saja bersiap-siap pergi ke rumah Pak Sai untuk ikut mengantarkan Putri Lala ketika Pak Golai berteriak memanggil namanya dengan wajah panik.
'Pak Tua! Mereka menemukan pencurinya!' teriaknya sambil berjalan terpincang-pincang karena mencoba berlari dari kejauhan.
Tak lama kemudian kedua petani itu berjalan menuju kerumunan warga desa. Di antara kerumunan itu ada Pak Sai dan istrinya. Raut muka mereka tampak sedih dan khawatir. Kerumunan itu terletak tidak jauh dari rumah peristirahatan keluarga kerajaan, tempat di sisi jembatan yang menghubungkan desa dengan laham rumah peristirahatan yang megah itu. Jembatan kayu itu cukup panjang, tetapi sangat kuat. Apa yang menjadi perhatian para warga bukan berada di atas jembatan kayu itu, melainkan di bawahnya. Parit yang cukup dalam itu tidak memiliki banyak air di musim kering begini. Karenanya sangat mudah melihat apa yang ada di dasarnya.
Pak Tua terkesiap begitu mengetahui apa yang menurut warga desa membuat ternak-ternak mereka menghilang. Seekor anjing yang sangat besar seukuran singa dewasa tergeletak di dasar parit. Salah satu kaki belakangnya berdarah-darah terkena parang salah satu petani yang menangkapnya semalam. Tetapi yang membuatnya kehilangan nyawa nampaknya bukan luka parang itu, melainkan lehernya yang patah membuat posisi kepalanya terpelintir aneh ke belakang. Pastilah hewan itu terjatuh dan melukai dirinya sendiri, dan mati.
Pak Tua merepet mendekati Pak Sai sambil menggenggam kain luaran baju Putri Lala di dekapannya.
'Putri Lala?' Pak Tua bertanya karena dia tidak melihat Sang Putri di mana pun di kerumunan itu.
'Pagi tadi kami berencana membangunkannya untuk memulai perjalanan sepagi mungkin, tapi kami tidak menemukannya di mana-mana,' ujar istri Pak Sai.
Pak Tua meremas kain luaran itu erat-erat. Tanpa sebab yang pasti, dia merasa geram sekaligus bersalah. Dia tidak berminat ikut serta bersama Pak Golai dan yang lain untuk mencari Putri Lala. Atau mengangkat bangkai anjing pencuri dari parit dan menguburnya. Pak Tua ingin segera kembali ke gubuknya dan beristirahat. Kejadian-kejadian itu membuatnya sangat letih dan sedih. Pak Tua melipat kain luaran Putri Lala yang tertinggal semalam dengan rapi dan menyimpannya di dekat tungku.
'Tentu saja jagung dan tomat panggang tidak akan membuatmu kenyang,' ujar Pak Tua kepada dirinya sendiri, sambil memandangi satu-satunya barang yang teringgal dari Sang Putri. Pak Tua tidak merasa ingin bekerja hari itu. Pak Tua merasa lelah sekali.
*
(inspired by 'The Truth Untold' and 'Red Riding Hood')
No comments:
Post a Comment