Sunday, July 15, 2018

Nyonya Maisel yang mengagumkan

Begitulah, kalo lagi ada kerjaan (banyak!) malah pengennya main mulu. Udah sebulan ini saya puasa Netflix. Tapi karena bawaan pengen mainnya ini yang ngga ketulungan tapi juga belum berani nyentuh-nyentuh Netflix, saya nyari apa yang ada di Prime Video. Buhahaha. Sama aja bodong. Kemudian saya lihat judul 'The Marvelous Mrs. Maisel'. Wow, saya pernah lihat trailernya dan nyangka kalo itu judul film yang bakal tayang 2018 di cinema. Ternyata itu series toh. Oke, let's give it a go, deh. Jadi di sinilah saya, nonton 'Nyonya Maisel yang mengagumkan' Season 1 dan sekarang udah ngga sabar nonton Season 2-nya.

Waktu lihat trailernya beberapa minggu lalu, saya udah kepikiran untuk menambahkannya ke watch-list. Udah ketebak kan, saya seneng banget tontonan-tontonan yang bau-bau girl-power gitu. Series komedi yang baru rilis 2018 ini fresh banget sih menurut saya. Mungkin karena saya yang terlalu lama terjebak sama series superheroes dan detektif-detektifan kali ya. Ceritanya juga hampir-hampir realistis. Series ini berkisah seputar cewek yang nama gadisnya Miriam Weissman, terus dinikahi sama cowok yang mimpi dan cita-citanya jadi comic (stand-up comedian), namanya Joel Maisel. Jadilah Midge, panggilan gaulnya Miriam, goes with Mrs. Maisel. Settingan ceritanya berlatar New York tahun 1950-an. Aseli, saya suka banget sama baju-baju, background music, juga model-model bangunan dan interior sepanjang series ini. Setelah pembukaan ba bi bu, sumber dinamika ceritanya muncul dari gimana sosok Midge ini bertahan, menjadi dan mencari dirinya sendiri setelah suatu malam Joel memutuskan untuk ninggalin dia dan dua anak mereka yang lucu-lucu (si Ethan baru mau empat tahun, dan Ester yang masih bayi).

Keluarga Midge, maupun Joel, ini sama-sama dari komunitas Yahudi yang cukup strict, mungkin termasuk generasi-generasi awal yang tinggal di Amerika ya (cmiiw, saya ngga tau menahu soal perjalanan sejarah komunitas-komunitas di US). Keduanya dari kalangan berada, yang kaya tapi ngga berlebihan juga. Bapaknya Midge ini profesor matematika di Columbia Uni (fangirl mode on: akkk! 😍), jadi pendekatannya waktu menghadapi anaknya sedang dirundung masalah keluarga cukup menarik juga ditilik dari keluarga Yahudi taat di era itu.



Dari episode pertama, saya langsung jatuh cinta sama karakter Mrs. Maisel (Rachel Brosnahan, main di House of Cards juga, series yang saya belum bisa lanjut nonton lagi karena mentalnya kurang greng) dari scene pertama dia lagi speech di hari pernikahannya sama Joel. It was somewhat bold, touching, and funny at the same time. Ini kece bener deh creatornya, Bu Amy Sherman-Palladino. Saya belum gitu familiar sama karya-karyanya sih. Kabarnya Gilmore Girl dan Roseanne bagus juga, tapi saya musti menahan diri nih.

Hal lain yang bikin saya terpikat salah satunya karena nemu muka yang familiar. Pemeran Rose Weissman (Marin Hinkle), ibunya Midge, ini juga main di Speechless, jadi kepala sekolah di sekolah tiga bersaudara DiMeo. Saya juga demen banget series itu, tapi udah lama ngga ngikuti sejak tengah-tengah Season 3.

Jadi si Joel ini kan pingin banget jadi comic, kerjaannya saban malem Sabtu pulang kantor dijemput istrinya dan cabut ke salah satu cafe di downtown dan mengemis-emis slot untuk bisa tampil di cafe itu, yang keliatan mereka selalu datengin sih namanya Gaslight, yang dikelola sama karakter utama lainnya selain Mrs. Maisel, yaitu Susie (Alex Borstein, yang ngisi suaranya Lois Griffin di Family Guy). Sayangnya Joel Maisel yang lugu meskipun ganteng itu (diperanin sama Michael Zegen) agak-agak kurang mateng gitu usahanya untuk menggapai mimpinya. Masak mau stand-up, materinya bakal colongan dari materi komedian yang udah terkenal duluan. Padahal Midge, sungguh-sungguh model istri yang loyal dan sejati lah, udah siapin semua materi dia di buku catetan pinknya yang imut, setiap Jumat dimasakin brisket buat sogokan pengelola Gaslight biar suaminya dapet slot tampil. She is such a lovely wife no one can find. Dan dia dengan setianya mendukung suaminya setiap saat.

Saya cuman bisa berheran-heran waktu lihat scene di mana Midge tidur dengan make up lengkap terus mengendap-endap keluar kamar setelah memastikan suaminya tidur, terus pergi ke kamar mandi cuman buat ngapus make up-nya dan apply masker ke muka dia, pergi tidur lagi, bangun sebelum suaminya bangun untuk mengendap-endap balik ke kamar mandi buat ngapus masker dan puk-puk lagi kosmetiknya, daaaan lanjut tidur lagi hanya supaya pas suaminya kebangun, dia bisa lihat istrinya yang cantik wangi dan aduhai. She kept in shape for four years during their marriage for her beloved husband. Tapi apa yang didapetnya? Karena suatu malem Sabtu si Joel ngga sempet latihan apalagi nyusun materi buat perform, akhirnya dia ngga dapet crowd sama sekali dari audience. Terus memutuskan untuk menalak istrinya. Bah?

Dari sinilah ceritanya bergulir menarik. Hidup Midge mungkin nampak berantakan, tapi kita dibawa serta untuk melihat keadaan dari posisinya. Entah kenapa karena saya team-Midge sejak awal, saya merasa semua tindakan dia pasca-ditinggal-Joel masuk akal aja. Haha. Tapi, kawan, minum minuman keras dan nyimeng bukan solusi dari apa pun. Lama-lama Midge, lewat Susie, menyadari jangan-jangan dia lebih layak dan berpotensi untuk jadi comic ditimbang suaminya. Hampir semua catetannya ya hasil pemikiran dia, bukan Joel. Dan dia itu observant dan witty banget. Apalagi kalo lagi terpaksa ngomong di depan publik (yang mana beberapa kali kudu mabok dulu, sigh).

Jelas sih, karena saya juga fans stand-up comedy, saya menikmati betul scene-scene di mana Midge dan Susie keliling ngumpulin materi dan knowledge tentang per-stand-up-an yang Midge, mungkin juga Joel (tapi kalo Joel sih kayanya ignorant aja), kira ngga pernah ada selama ini. Juga waktu Midge nge-bomb. Sama sekali ngga lucu, kaya waktu suaminya messed-up kapan hari itu, tapi kegigihan Susie bikin Midge kembali ke jalan yang benar disenanginya itu, being a comedianne.

Mungkin ceritanya akan berkembang ke arah yang saya ngga pernah sangka, sih, nanti di Season 2. Sejauh ini, Season 1 udah lived up to its title: The Marvelous Mrs. Maisel. Ada bagian-bagian di Season 1 ini yang bikin saya merinding:

1. Yang udah saya bilang, waktu Midge susah payah keliatan cantik buat suaminya sepanjang mereka nikah. Dan, mbok e, ternyata itu kebiasaan yang nurun dari emaknya. Luar biasa. Hubungan mother-daughter di drama-seri ini kental banget. Saya jadi keinget film Lady Bird. Ada konflik yang menarik dan mirip di kedua kisah itu, yaitu pas si Bunda kesel sama anak perempuannya karena merasa ngga dianggap lagi sama putrinya (di series Mrs. Maisel ngga ngasih tahu kalo Joel pernah ngajak balikan, di Lady Bird, si anak ngga ngasih tau ibunya kalo dia daftar universitas di New York sampe masuk di wait-list calon mahasiswa). Di situ karakter Rosie Weissman jadi makin solid banget menurut saya, karena kesannya natural banget. Saya pikir keadaan kaya gitu sangat-sangat umum kejadian, ya kan?

2. Waktu Joel minta balikan tapi Midge menolak, hmm Episode 3 ini deh kalo ngga salah. Waktu Joel nanya kenapa ngga mau, jawaban Midge adalah: 'Because you left.' Strike! Singkat padat, that's my girl! Meskipun sebagai istri yang baik, mungkin sebaiknya itikad baik kaya gitu juga disambut positif ya. Tapi untuk situasi ini, biar tau rasa lah suaminya, ngga semudah itu bilang pergi dan kembali ujug-ujug. Eaa. Saya sotoy banget padahal ngga pengalaman, tapi ngga papa lah sok-sok mengobservasi. Haha. Etapi waktu mereka baikan lagi di Episode 8, saya terharu lho. Itu kaya menyaksikan kedua orang tua saya baikan lagi setelah marahan dan ngga ngomong satu sama lain beberapa lama.

3. Ada satu scene di mana Ethan nyapa mamahnya duluan: 'Hey Mommy!'. Ih itu kiyuut.. Padahal biasanya dia ngga pernah repot-repot mengindahkan mamahnya kalo mamahnya baru dateng mau jemput Ethan dari apartemen kakek-neneknya. Saya menyadari bahwa di cerita ini Mrs. Maisel ngga digambarkan sebagai sosok ibu yang all-out mendedikasikan waktunya untuk anak-anaknya. Di salah satu stand-up pertama-pertamanya dia mengakui kalo mungkin dia ngga ditakdirkan menjadi seorang ibu (kayanya ini salah satu yang dia agak mabok gitu). Well, menjadi ibu dengan, kalo istilahnya si Midge, "segala perlengkapan yang udah pre-install secara jasmani" untuk wanita itu kan emang kodrat ya. Meskipun ngga semua Dikasih kesempatan untuk memenuhi kodrat itu. I don't blame Mrs. Maisel for thinking that way, but still.. . Namun demikian, komitmennya untuk merawat anak-anaknya kentara banget. Salut lah sama ibu-ibu di dunia nyata yang beneran kaya Mrs. Maisel ini. Eksis untuk dirinya sendiri, untuk anak-anaknya dan juga suami (kalo masih ada).

Kalo Sodara-sodara sekalian, apa yang menurut kalian menarik dari series ini?

No comments:

Post a Comment