Terlalu lama. Terlalu lama, Sodara-sodara.
Pagi tadi ada bahasan yang menggelitik saya untuk nulis postingan ini. Salah satu temen deket saya, dalam sebuah grup chat yang berisi empat orang temasuk saya, bertanya:
'Rek, apa sih yang bikin kalian excited, seneng, dan bergairah?'
Pertanyaan yang umum ditanyain orang-orang masa kini ya. Tapi kebetulan sekali saya belum pernah ditanyai secara langsung. Dalam berbagai fase hidup, mungkin jawaban saya terhadap pertanyaan itu akan berbeda-beda tergantung kapan saya ditanya. Dalam rentang waktu akhir-akhir ini, satu hal yang muncul pertama kali di kepala saya, sayangnya, adalah urusan kerjaan yang sebenernya ngga menyenangkan banget juga. Tanpa mikir dua kali saya jawab: 'Ketika riset berproges dan diacknowledge sama profesor.'
Hah. Menyedihkan ya? Tapi memang itu concern terbesar saya saat ini. Dan ketika Umik Profesor saya ngasih feedback baik dengan sentuhan pujian, meskipun sedikit banget serta amat sangat jarang, mood saya jadi luar biasa ceria. Seneng dan lega banget. Terus jadi semangat dan hopeful.
Harusnya semangat ini ngga malah bikin saya berprokrastinasi. Tapi, apalah daya begitu dapet feedback, rasanya saya pengen istirahat sejenak. Lalu 'isitrahat' ini menjadi sebuah jebakan betmen berujung nestapa. Haha.
Oke, balik ke pertanyaan temen saya tadi. Saya kaget waktu yang lain jawab bahwa sesuatu yang bikin mereka bergairah dan excited adalah hal-hal seperti dengerin lagu atau baca komik. Saya jadi sedih. Tepat saat itu saya mendadak menyadari bahwa saya mungkin kurang main. Bukan berarti saya ngga bersenang-senang, lho. Saya nonton film. Saya dengerin lagu-lagu dari penyanyi favorit saya. Tapi saya ngga merasa mendapat excitement dari sana. Setelah binging Stranger Things S3 di hari kemerdekaan Amerika Serikat minggu lalu misalnya, waktu nonton sih seneng. Tapi selesainya, jadi merasa bersalah.
Jadi intinya, mungkin saya aneh ya. Sepertinya saya harus bener-bener menikmati setiap detik setiap waktu untuk mencukupi kesenangan batin. Atau jangan-jangan teman-teman yang lagi berdarah-darah menuju ujung sekolah pascasarjana juga mengalami hal yang sama?
Pagi tadi ada bahasan yang menggelitik saya untuk nulis postingan ini. Salah satu temen deket saya, dalam sebuah grup chat yang berisi empat orang temasuk saya, bertanya:
'Rek, apa sih yang bikin kalian excited, seneng, dan bergairah?'
Pertanyaan yang umum ditanyain orang-orang masa kini ya. Tapi kebetulan sekali saya belum pernah ditanyai secara langsung. Dalam berbagai fase hidup, mungkin jawaban saya terhadap pertanyaan itu akan berbeda-beda tergantung kapan saya ditanya. Dalam rentang waktu akhir-akhir ini, satu hal yang muncul pertama kali di kepala saya, sayangnya, adalah urusan kerjaan yang sebenernya ngga menyenangkan banget juga. Tanpa mikir dua kali saya jawab: 'Ketika riset berproges dan diacknowledge sama profesor.'
Hah. Menyedihkan ya? Tapi memang itu concern terbesar saya saat ini. Dan ketika Umik Profesor saya ngasih feedback baik dengan sentuhan pujian, meskipun sedikit banget serta amat sangat jarang, mood saya jadi luar biasa ceria. Seneng dan lega banget. Terus jadi semangat dan hopeful.
Harusnya semangat ini ngga malah bikin saya berprokrastinasi. Tapi, apalah daya begitu dapet feedback, rasanya saya pengen istirahat sejenak. Lalu 'isitrahat' ini menjadi sebuah jebakan betmen berujung nestapa. Haha.
Oke, balik ke pertanyaan temen saya tadi. Saya kaget waktu yang lain jawab bahwa sesuatu yang bikin mereka bergairah dan excited adalah hal-hal seperti dengerin lagu atau baca komik. Saya jadi sedih. Tepat saat itu saya mendadak menyadari bahwa saya mungkin kurang main. Bukan berarti saya ngga bersenang-senang, lho. Saya nonton film. Saya dengerin lagu-lagu dari penyanyi favorit saya. Tapi saya ngga merasa mendapat excitement dari sana. Setelah binging Stranger Things S3 di hari kemerdekaan Amerika Serikat minggu lalu misalnya, waktu nonton sih seneng. Tapi selesainya, jadi merasa bersalah.
Jadi intinya, mungkin saya aneh ya. Sepertinya saya harus bener-bener menikmati setiap detik setiap waktu untuk mencukupi kesenangan batin. Atau jangan-jangan teman-teman yang lagi berdarah-darah menuju ujung sekolah pascasarjana juga mengalami hal yang sama?
No comments:
Post a Comment