Wednesday, July 18, 2018

la luna ketika belajar bahasa asing (dua)

Setelah postingan yang terakhir soal siap-siap gempur Bahasa Inggris lagi itu, saya dapet beberapa masukan lagi dari temen-temen saya. Wah ternyata banyak banget yang saya lewatkan. Ini beberapa cerita mereka:

1. Dari Raisa
Temen saya ini punya suami seorang IT consultant di Malang. Jauh sebelum negara api menyerang, sang suami ini sama sekali ngga pede sama bahasa Inggris-nya. Tapi beliau pernah berkesempatan nyoba jadi pengajar komputer di salah satu sekolah kece di kota yang sama, yang mana bahasa pengantar belajar mengajarnya musti in English. Bukannya mundur, mungkin dengan tekad bulat, suami Raisa temen saya itu justru maju terus. Belajar sambil jalan. Akhirnya kebisaan itu terasah karena terpaksa dan biasa. Sekarang kalo diminta bikin modul workshop atau materi apa gitu dalam bahasa Inggris, beliau ngga pernah nolak. Raisa sendiri, temen baik saya ini, udah kenyang les bahasa Inggris dari kecil. Skor tesnya pun paling tinggi di antara kami berlima (eh apaan nih, kok lima? besok-besok deh saya ceritain). Tapi dia sendiri berani mengklaim kalo sekarang pun urusan korespondensi, dia mengandalkan suaminya untuk mereview dan ngoreksi. Sangar, ya?

2. Dari Ratih
Yang mirip-mirip datang dari Ratih. Waktu masih kuliah di Jakarta, dia pernah pengalaman ngasih les private untuk anak sekolah dengan (lagi-lagi) pengantar bahasa Inggris. Dia juga merasa keberaniannya untuk ngomong bahasa Inggris masih terbatas banget waktu itu, tapi dengan memaksa diri, akhirnya terpupuk juga kebisaannya.
Menurutnya, untuk anak kuliahan, memaksa diri untuk melahap buku teks berbahasa Inggris juga ngefek, lho. Tuh, buat temen-temen yang masih kuliah sarjana, jangan menghindari buku teks berbahasa Inggris. Selain merangsang kebisaan kita untuk bersinggungan dengan Inggris-an, juga membiasakan kita baca sesuatu langsung dari sumbernya dan bahasa aslinya.

3. Dari Widi
Temen deket saya yang satu lagi ini punya banyak pengalaman belajar bahasa Inggris yang dia share. Di antaranya kebiasaan untuk ngetik kata kunci di search-engine. Sekarang kan kita suka ngga bisa lepas dari Google-search ya, nah biasakan masukkan keyword bahasa Inggris, karenanya sumber-sumber informasinya biasanya lebih akurat dan terpercaya serta memaksa kita untuk baca teks Inggris juga.
Ada lagi. Jangan takut kalo disuruh-suruh berinteraksi sama orang asing, hajar aja. Waktu saya masih kerja di Jakarta dan Surabaya, saya juga suka kagok gitu kalo diminta escort orang asing di kantor saya. "Aduh, mau ngomong apa sayaah?" selalu bikin stres. Tapi sebenernya ini langkah mudah untuk dapet banyak hal positif: temen asing, koreksi kalo-kalo kita ada salah pengucapan, dan banyak lain lagi.

4. Dari Jeung Jeje
Beliau adalah temen saya waktu kita berjuang bersama dikarantina selama tiga bulan di Bandung untuk tes IELTS. Beliau mengakui kalo karantina itu efektif sangat meningkatkan sense of academic English-nya. Urusan ngobrol untuk beli sayur atau nanya arah itu bisa dibisa-bisain, tapi kalo udah academic English, kayanya porsi seriusnya musti gede banget. Ini mungkin ngga berlaku buat beberapa orang ya. Buat kami-kami yang sehari-hari selama berpuluh tahun cuma pakai bahasa Inggris kalo terpaksa aja ini, academic English itu sungguhlah tricky. Jadi seperti yang saya pernah sebut di postingan saya sebelumnya, ngedrill diri sendiri untuk persiapan tes kualifikasi bahasa Inggris (IELTS atapun TOEFL) bisa jadi langkah yang signifikan sekalian untuk persiapan diri menuju academic English yang akan merundung kita habis-habisan kalau nanti jadi sekolah di luar Indonesia.

5. Tentang eksperimen saya
Saya juga udah nyebut ini sebelumnya. Di tahun 2010 sampai 2013an, saya sempat berpikir seperti halnya prinsipnya Sherlock Holmes: kalau kita lagi terlalu dalam memikirkan sesuatu, adakalanya melakukan sesuatu yang sama sekali lain akan memberi kita pemahaman baru atas sesuatu yang kita pikir dalem-dalem tadi, kaya gimana beliau suka main biola waktu menghadapi kasus yang rumit, gitu. Saya jadi pengen nyoba-nyoba bereksperimen untuk belajar bahasa lain selain Inggris di awal-awal masa fresh-graduate saya itu. Awalnya bahasa Perancis. Aduh tapi saya kesulitan dapet sumber belajarnya yang menyenangkan (saya ngga mau les, orang tujuannya seneng-seneng). Kemudian beralih ke Jepang. Diawali dengan beli buku kotak-kotak buat belajar nulis Hiragana dan Katakana. Tapi, cih, lama banget saya bisa ngapalin semuanya. Oh, saya yang tak sabaran. Akhirnya karena saya juga lagi kecanduan SNSD (Girls' Generation, girl group favorit saya sampe sekarang) sama Super Junior (yes I am a second-gen k-popers) kala itu, saya belajar Hangul. Asli, gampang banget! Wahaha. Akhirnya selama beberapa lama saya belajar Korea, terutama baca-tulis aksaranya. Sekarang saya bisa lah baca caption di reality show dan lirik lagu, meski masih suka off buat ngerti artinya. Hehe. Saya ngga tau itu beneran efektif nge-boost skill Inggris saya apa engga sebenernya, soalnya skor TOEFL-like saya naiknya ngga seberapa juga. Tapi setelah beberapa lama saya belajar bahasa lain itulah saya menyadari kalau saya ngga perlu subtitle lagi saat nonton film-film Disney dan Pixar untuk pertama kalinya. Akk, saya seneng banget (haha maklum ya, udik).
Tapi soal belajar bahasa Korea ini yah, kayanya anak-anak perempuan jaman sekarang udah banyak banget yang melakukan hal serupa simply because they like (or love) it, bukan karena kewajiban ekskul atau apa. Kalo motivasi saya yang sesungguhnya sebenernya pengen suatu hari nanti ngga perlu nunggu subtitle lagi kalo mau nonton reality show kesukaan-kesukaan saya. Hehe, receh ya.

6. Dengerin pod-cast dan nonton TED Programs (atau sejenisnya)
Saya lupa banget nyebutin ini kapan hari. Saya juga baru-baru ini familiar sama pod-cast dan TEDx Talks. Favorit saya TED-Ed yang isinya animated video. Kalo pod-cast kan ada ya aplikasinya di hape kita. Modelnya kaya radio gitu, tapi mostly kita dengerin satu orang atau lebih ngemengin satu topik. Saya suka ngga betah sih. Wkwk.
Kalo TEDx Talks, di Indonesia juga banyak kampus yang ngadain, kalo mau bisa cari-cari info supaya bisa attend di salah satu event-nya. Tapi banyakan ya berbahasa Indonesia ya. Di websitenya ada banyak recording talks yang bisa dipilih. Topiknya beragam banget dari yang berat-berat macem CRISPR-Cas9 sampe mirip-mirip stand-up comedy. Favorit saya masih talks-nya Tim Urban ini.

Gitu deh. Kalo ada yang kurang-kurang lagi, mau dong dibagi. Sampai jumpah~


Sunday, July 15, 2018

Nyonya Maisel yang mengagumkan

Begitulah, kalo lagi ada kerjaan (banyak!) malah pengennya main mulu. Udah sebulan ini saya puasa Netflix. Tapi karena bawaan pengen mainnya ini yang ngga ketulungan tapi juga belum berani nyentuh-nyentuh Netflix, saya nyari apa yang ada di Prime Video. Buhahaha. Sama aja bodong. Kemudian saya lihat judul 'The Marvelous Mrs. Maisel'. Wow, saya pernah lihat trailernya dan nyangka kalo itu judul film yang bakal tayang 2018 di cinema. Ternyata itu series toh. Oke, let's give it a go, deh. Jadi di sinilah saya, nonton 'Nyonya Maisel yang mengagumkan' Season 1 dan sekarang udah ngga sabar nonton Season 2-nya.

Waktu lihat trailernya beberapa minggu lalu, saya udah kepikiran untuk menambahkannya ke watch-list. Udah ketebak kan, saya seneng banget tontonan-tontonan yang bau-bau girl-power gitu. Series komedi yang baru rilis 2018 ini fresh banget sih menurut saya. Mungkin karena saya yang terlalu lama terjebak sama series superheroes dan detektif-detektifan kali ya. Ceritanya juga hampir-hampir realistis. Series ini berkisah seputar cewek yang nama gadisnya Miriam Weissman, terus dinikahi sama cowok yang mimpi dan cita-citanya jadi comic (stand-up comedian), namanya Joel Maisel. Jadilah Midge, panggilan gaulnya Miriam, goes with Mrs. Maisel. Settingan ceritanya berlatar New York tahun 1950-an. Aseli, saya suka banget sama baju-baju, background music, juga model-model bangunan dan interior sepanjang series ini. Setelah pembukaan ba bi bu, sumber dinamika ceritanya muncul dari gimana sosok Midge ini bertahan, menjadi dan mencari dirinya sendiri setelah suatu malam Joel memutuskan untuk ninggalin dia dan dua anak mereka yang lucu-lucu (si Ethan baru mau empat tahun, dan Ester yang masih bayi).

Keluarga Midge, maupun Joel, ini sama-sama dari komunitas Yahudi yang cukup strict, mungkin termasuk generasi-generasi awal yang tinggal di Amerika ya (cmiiw, saya ngga tau menahu soal perjalanan sejarah komunitas-komunitas di US). Keduanya dari kalangan berada, yang kaya tapi ngga berlebihan juga. Bapaknya Midge ini profesor matematika di Columbia Uni (fangirl mode on: akkk! 😍), jadi pendekatannya waktu menghadapi anaknya sedang dirundung masalah keluarga cukup menarik juga ditilik dari keluarga Yahudi taat di era itu.


Friday, July 13, 2018

Putri Lala dan Ladang Pak Tua (dua)

Pak Tua merasakan sakit hati mengetahui bahwa anak di hadapannya benar-benar Putri Lala. Pak Tua tidak bisa tidak mengenali putri semata wayang raja yang memimpin kerajaan wilayah itu. Salah satu rumah peristirahatan kerajaan berada tidak jauh dari desa Pak Tua. Setiap sekali setahun, keluarga kerajaan akan menginap di sana untuk berlibur. Di masa-masa liburan itu, Pak Tua dapat melihat kereta kerajaan setiap hari melintas di depan gubuknya. Seringkali Putri Lala tidak berada di dalam kereta, tetapi berlari-larian di belakangnya atau di depannya ditemani beberapa pelayan yanyang juga bersuka cita. Itu merupakan pemandangan yang indah bagi warga desa setempat. Beberapa kali mereka berhenti di depan gubuk Pak Tua dan mampir untuk melihat-lihat ternaknya atau membeli beberapa hasil ladangnya. Mereka akan bilang untuk makan malam. Tidak hanya membeli dari Pak Tua, keluarga kerajaan juga seringkali mampir ke rumah warga desa yang lain. Putri Lala juga masyur akan betapa mudah ia berteman dengan anak-anak di desa itu. Karenanya sangat mudah mengenali Putri Lala, tidak hanya bagi Pak Tua tetapi juga warga desa lainnya. Bahkan dari kejauhan sekalipun.

Kebiasaan berlibur itu tidak lagi dilakukan sejak tahun lalu, kabarnya dikarenakan Putri Lala yang sakit. Mendapati Putri Lala malam itu berada di ladangnya, dalam keadaan lusuh, tanpa alas kaki. Pak Tua sangatlah terkejut. Sang Putri pastilah benar-benar tidak sehat. Tetapi apa yang sebenarnya terjadi?

'Apa yang sebenarnya terjadi, Yang Mulia?' Pak Tua menyuarakan pikirannya, setengah berbisik kemduian melanjutkan dengan tidak kalah pelan, 'Jangan mencuri, mari makan di dalam.'

Putri Lala dan Ladang Pak Tua (satu)

Pada zaman dahulu, di sebuah kerajaan kecil nan makmur, hiduplah Pak Tua yang tinggal sendirian di sebuah gubuk kecil di desa paling selatan wilayah kerajaan. Perawakannya kecil tetapi masih lincah, meskipun usianya sudah tidak lagi muda. Istrinya sudah lama meninggal dan mereka tidak dikaruniai anak. Namun Pak Tua tidak pernah merasa kesepian. Gubuk yang ia sebut rumah boleh kecil dan seadanya, tetapi Pak Tua memiliki ladang yang luas sekali. Cukup untuknya menanam hampir semua kebutuhan hidup sehari-hari dan beternak beberapa ekor kambing dan ayam.

Baru-baru ini Pak Tua membangun pagar sederhana dari bambu dan memasangnya mengelilingi ladang dan rumahnya. Hal ini tidaklah lazim di desa tempat Pak Tua tinggal. Tetapi beberapa rumah juga melakukan hal serupa karena telah terjadi beberapa kali kasus kehilangan ternak di desa itu. Dalam satu bulan terakhir sudah ada lima rumah yang melaporkan kehilangan ternak dan sebagian hasil panen yang disimpan baik di dalam lumbung. Tidak ada yang tahu siapa atau apa yang membuat ternak-ternak itu menghilang. Beberapa tetangga Pak Tua mengaku melihat bayangan anjing yang sangat besar di malam mereka kehilangan ayam-ayam mereka. Salah seorang tetangganya yang lain, korban pertama di desa itu yang kehilangan hampir separuh jagung persediaan musim kemaraunya dari lumbung, melaporkan kehilangannya sambil membawa-bawa secarik kain merah. Dia mengaku mendapati kain itu di dekat lumbungnya dan menuduh tetangganya yang lain mencuri darinya. Tidak ada yang mempercayainya karena tidak ada seorang pun di desa itu yang layak dituduh atas tindakan-tindakan tidak manusiawi seperti mencuri. Kepala desa meyakinkan hal ini kepada semua orang tetapi kasus pencurian itu kemudian terjadi hampir setiap malam dan hal ini tidak membuat siapa pun lebih tenang. Terlebih lagi, si pencuri, apapun atau siapapun itu, tidak pernah meninggalkan jejak apa pun dalam setiap askinya -- kecuali mungkin kain merah itu, kalau memang benar itu milik si pencuri. Karenanya seluruh warga desa disarankan untuk selalu waspada, salah satunya dengan memasang pagar di sekililing peternakan mereka.

Wednesday, July 11, 2018

di bawah balkon, sebelum hujan

Katanya Ames jadi sering hujan. Engga juga sih. Saya baru balik dari mudik tiga harian lalu dan masih shock sama jetlag dan panasnya udara di luar. Padahal bagusan mah keluar yak, memulai hidup dan realita. Tapi bodinya masih lembek, kalah sama jetlag. Jadi di sinilah, mengurung diri, sok sok menunggu hujan yang kayanya ngga bakalan datang lagi di sisa-sisa summer ini.


Ada yang tahu gimana caranya mengembalikan semangat?