saya tidak pernah membayangkan hidup saya akan berjalan seperti sekarang ini hari ini.
'boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..'
siapa di sini yang sudah merasakan hidup yang memang sudah dibayang-bayangkan pada masa muda?
empat tahun lalu, saya membayangkan diri saya di masa sekarang masih di ibu-kota, mengais rezeki bersama perantauan-perantauan lainnya, atau paling indah sudah ada di negeri orang, mengais ilmu sambil mendistribusikan duit beasiswa demi kelangsungan hidup di sana. hihi. paling senang kalau sudah tiba saatnya membayang-bayangkan.
tapi oh tapi. jangankan empat tahun ke depan, hidup kita sehari mendatang saja tidak akan pernah kita tahu kan. manusia paling mentok hanya bisa berencana. realisasinya lagi-lagi sepenuhnya hak Yang Maha Kuasa.
isu bersama yang sedang dihadapi oleh teman-teman terdekat saya sekarang, dan saya sendiri, adalah tugas akhir magister. masing-masing dari kami sedang menjalankan risetnya sendiri. menyenangkan? yaah.. gimana ya. di awal kehidupan magister kami, sebagian besar tidak pernah membayangkan akan menekuni tugas akhir dengan tema atau topik yang sedang kami jalankan sekarang.
saya misalnya, modal saya melanjutkan magister adalah dengan harapan saya bisa melakukan riset mengenai topik yang sudah saya taksir sejak lulus sarjana. seiring berjalannya waktu, Sang Maha Pembolak-balik hati menunjukkan kesempatan dan pilihan lain. pilihan yang langsung saya 'iya'kan, hampir tanpa pikir panjang (lebih karena saya khawatir tidak akan mendapatkan kesempatan serupa di lain waktu). alhasil, here I am, bersama riset yang metodenya cuma ada di angan-angan saya saja empat tahun lalu. pada saat itu saya tidak pernah terbayang akan mengenal lebih dekat dengan topik riset saya ini.
yang mengherankan, saya tidak membencinya lho. sesuatu yang nampak sulit, ruwet, njelimet ewet ewet ini, saya sama sekali tidak membencinya. meskipun ujian pertama proposal riset saya tempo hari gagal total, saya tidak berminat untuk berpisah dengannya. ini bukti, bahwa cinta bisa dipaksa!
teman-teman seperjuangan yang sedang menggarap master tesis banyak juga yang sepakat. entah memang begitu adanya, entah demi motivasi dan menjaga semangat juang. hehe.
gara-gara ini saya jadi berpikir yang iya-iya. jangan-jangan pada dasarnya memang cinta bisa dipaksa. saat kita tidak mau menerima sesuatu di hadapan kita, saat itulah hati kita sedang tertutup. terbukanya hati kita hanya pada hal-hal yang kita 'sangka' baik. bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu baik? bisa jadi karena sejak awal kita sudah 'melihatnya' dengan hati yang terbuka. ruwet? iya juga sih.
Anda sekalian yang sudah banyak menyimpan pengalaman hidup, mungkin pernah atau sering melihat fenomena macam 'cinta bisa karena biasa', kan? yah.. mungkin sama aja gitu.
fuaahhh.. intinya salah satu moral selama bergelut dengan riset ini dan yang paling menghujami saya adalah ayat 216 QS. Al Baqarah:
'boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui..'
terlepas dari hal-hal yang memang sudah Digariskan buruk, masih banyak kebaikan-kebaikan yang mungkin sedang menunggu untuk kita eksplor. yang perlu kita lakukan hanyalah membuka hati.
selamat hari Jumat.
ya ampun... ternyta km menyembunyikn misi terpendam dg mengorbankan kami,makanya km ga berjodoh dg "Ba..."
ReplyDeletey wes lah
ini rasanya seperti dijodohkan
tresno jalaran soko kuliah :)
:))
Deleteiya nih kaya dijodohin, rasanya ga jelek2 amat :D