Tidak ada siapapun di dalam gerbong dua siang itu, selain Arimba. Anak laki-laki kurus itu duduk sendirian di baris kedua kursi kereta yang terbuat dari kayu, sambil bertopang dagu, dan pandangannya menerawang keluar jendela. Ada yang tahu apa yang ada di pikirannya? Aku sendiri bertanya-tanya.
Pun tidak ada yang tahu kemana Arimba menuju. Sama halnya dengan kereta awan yang sedang ia tumpangi siang itu. Tidak ada yang tahu dari mana kereta itu berasal dan sampai kapan lima gerbong seputih awan itu akan melayang-layang berkeliling semesta. Kalian mungkin tidak ada yang pernah menyadarinya. Tapi aku sudah tidak lagi terkejut saat menengadah ke atas, mendongak pada langit yang sedang cerah dan mendapatkan kereta awan melintas di atas sana.
Saat sedang beruntung, aku bisa masuk ke salah satu gerbongnya. Seperti saat ini. Di dalam gerbong dua. Di mana Arimba, anak laki-laki berumur tidak lebih dari delapan tahun, duduk terdiam sambil sesekali menahan kantuk. Jelas dia tidak menyadari kehadiranku. Atau mungkin tidak peduli. Aku ingin bertanya ke mana ia akan pergi menakiki kereta ini. Tapi sebelum aku sempat bersuara, tiba-tiba kereta awan berdecit panjang. Lalu berhenti. Gerbong-gerbong putih ini terdiam di tengah perjalanannya. Aku panik dan tanpa berpikir panjang aku ambil langkah seribu meninggalkan gerbong dua. Kereta awan berhenti. Ini bukan pertanda baik.
Dari luar aku masih dapat melihat Arimba, masih duduk di tempat yang sama. Hanya saja kali ini dia tidak mengantuk. Duduknya tegak dan waspada. Aku belum pernah melihat kereta itu berhenti di tengah udara begini. Tujuh ribu meter di atas ladang jagung di bawah sana. Aku masih mengamati Arimba yang kini berdiri dan berjalan menuju pintu penghubung gerbong satu. Tidak ada siapa-siapa di gerbong satu. Kalian mungkin heran kenapa aku tidak pernah menyebut-nyebut lokomotifnya. Mudah saja. Karena memang tidak ada. Arimba tahu itu. Karenanya dia tidak repot-repot melintas gerbong satu, melainkan berjalan menuju arah lain, penghubung gerbong tiga.
Tadinya gerbong tiga itu kosong. Tapi kini duduk sepasang kakek-nenek di salah satu barisan kursinya. Tampaknya mereka tidak peduli bahwa kereta tengah berhenti. Atau.. jangan-jangan karena mereka lah kereta awan berhenti sejanak? Gerbong-gerbongnya kini mulai bergerak kembali. Arimba tersenyum dan berjalan kembali ke kursinya. Cepat-cepat aku menyusul laju kereta awan dan kembali bergabung bersama Arimba di gerbong dua. Lalu untuk pertama kalinya aku memberanikan diri menggapai kursi yang sedang kosong di sisi kanan Arimba, dan untuk pertama kalinya juga Arimba menyadari kehadiranku.
'Arumi?' Arimba bersuara, menelengkan kepalanya seolah pertanyaan itu ditujukan padaku.
Kukira dia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti saat kemudian dia bertanya lagi,
'Namamu, Arumi?'
Karena setelahnya aku tidak mengatakan apapun, sepertinya dia menganggap aku menyetujuinya.
'Akhirnya aku punya teman. Kau lihat kakek-nenek di gerbong tiga sana tadi? Mereka baru naik. Makanya tadi kereta berhenti sebentar. Beruntung sekali mereka bisa naik kereta bersama-sama. Beberapa waktu lalu aku ingin mengajak ibuku, tapi mereka bilang aku harus datang sendiri.'
Arimba ternyata bukan pendiam, tapi itu tidak lagi mengejutkanku. Sampai malam menjelang, Arimba bercerita banyak tentang segala hal tentang dirinya. Segala hal yang sebenarnya aku sudah tahu. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa, sehingga aku diam saja, mendengarkan ceritanya dalam suara kanak-kanak yang selalu aku rindukan. Lagipula, aku bisa apa.
'Apa menurutmu kita akan sampai sebelum matahari kelihatan lagi, Arumi?' tanyanya lagi.
Aku memandangi wajahnya yang mungil dan menyenangkan. Paling tidak, aku ingin menenangkannya dengan berusaha tersenyum, tapi Arimba tidak melihatnya. Bulan sabit di luar sana memang lebih menarik.
'Ibuku sering menyanyikan lagu tentang bulan sebelum aku tidur,' ucapnya lirih sambil kembali bertopang dagu dan memandang ke luar jendela.
Aku terpekik karena senang. Aku tahu lagu yang ibunya selalu nyanyikan. Ketika aku mulai bersenandung, Arimba membelalakkan matanya mengikuti gerakan tubuhku dan seketika itu kami bernyanyi bersama. Beberapa siang dan malam berikutnya adalah waktu-waktu yang tidak pernah mengecewakanku. Beberapa kali kereta awan berhenti beberapa menit untuk menaikkan penumpang. Meskipun belum pernah ada penumpang lain di gerbong kami, gerbong dua, kami tidak pernah merasa kesepian.
-- (bersambung)
Pun tidak ada yang tahu kemana Arimba menuju. Sama halnya dengan kereta awan yang sedang ia tumpangi siang itu. Tidak ada yang tahu dari mana kereta itu berasal dan sampai kapan lima gerbong seputih awan itu akan melayang-layang berkeliling semesta. Kalian mungkin tidak ada yang pernah menyadarinya. Tapi aku sudah tidak lagi terkejut saat menengadah ke atas, mendongak pada langit yang sedang cerah dan mendapatkan kereta awan melintas di atas sana.
Saat sedang beruntung, aku bisa masuk ke salah satu gerbongnya. Seperti saat ini. Di dalam gerbong dua. Di mana Arimba, anak laki-laki berumur tidak lebih dari delapan tahun, duduk terdiam sambil sesekali menahan kantuk. Jelas dia tidak menyadari kehadiranku. Atau mungkin tidak peduli. Aku ingin bertanya ke mana ia akan pergi menakiki kereta ini. Tapi sebelum aku sempat bersuara, tiba-tiba kereta awan berdecit panjang. Lalu berhenti. Gerbong-gerbong putih ini terdiam di tengah perjalanannya. Aku panik dan tanpa berpikir panjang aku ambil langkah seribu meninggalkan gerbong dua. Kereta awan berhenti. Ini bukan pertanda baik.
Dari luar aku masih dapat melihat Arimba, masih duduk di tempat yang sama. Hanya saja kali ini dia tidak mengantuk. Duduknya tegak dan waspada. Aku belum pernah melihat kereta itu berhenti di tengah udara begini. Tujuh ribu meter di atas ladang jagung di bawah sana. Aku masih mengamati Arimba yang kini berdiri dan berjalan menuju pintu penghubung gerbong satu. Tidak ada siapa-siapa di gerbong satu. Kalian mungkin heran kenapa aku tidak pernah menyebut-nyebut lokomotifnya. Mudah saja. Karena memang tidak ada. Arimba tahu itu. Karenanya dia tidak repot-repot melintas gerbong satu, melainkan berjalan menuju arah lain, penghubung gerbong tiga.
Tadinya gerbong tiga itu kosong. Tapi kini duduk sepasang kakek-nenek di salah satu barisan kursinya. Tampaknya mereka tidak peduli bahwa kereta tengah berhenti. Atau.. jangan-jangan karena mereka lah kereta awan berhenti sejanak? Gerbong-gerbongnya kini mulai bergerak kembali. Arimba tersenyum dan berjalan kembali ke kursinya. Cepat-cepat aku menyusul laju kereta awan dan kembali bergabung bersama Arimba di gerbong dua. Lalu untuk pertama kalinya aku memberanikan diri menggapai kursi yang sedang kosong di sisi kanan Arimba, dan untuk pertama kalinya juga Arimba menyadari kehadiranku.
'Arumi?' Arimba bersuara, menelengkan kepalanya seolah pertanyaan itu ditujukan padaku.
Kukira dia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti saat kemudian dia bertanya lagi,
'Namamu, Arumi?'
Karena setelahnya aku tidak mengatakan apapun, sepertinya dia menganggap aku menyetujuinya.
'Akhirnya aku punya teman. Kau lihat kakek-nenek di gerbong tiga sana tadi? Mereka baru naik. Makanya tadi kereta berhenti sebentar. Beruntung sekali mereka bisa naik kereta bersama-sama. Beberapa waktu lalu aku ingin mengajak ibuku, tapi mereka bilang aku harus datang sendiri.'
Arimba ternyata bukan pendiam, tapi itu tidak lagi mengejutkanku. Sampai malam menjelang, Arimba bercerita banyak tentang segala hal tentang dirinya. Segala hal yang sebenarnya aku sudah tahu. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa, sehingga aku diam saja, mendengarkan ceritanya dalam suara kanak-kanak yang selalu aku rindukan. Lagipula, aku bisa apa.
'Apa menurutmu kita akan sampai sebelum matahari kelihatan lagi, Arumi?' tanyanya lagi.
Aku memandangi wajahnya yang mungil dan menyenangkan. Paling tidak, aku ingin menenangkannya dengan berusaha tersenyum, tapi Arimba tidak melihatnya. Bulan sabit di luar sana memang lebih menarik.
'Ibuku sering menyanyikan lagu tentang bulan sebelum aku tidur,' ucapnya lirih sambil kembali bertopang dagu dan memandang ke luar jendela.
Aku terpekik karena senang. Aku tahu lagu yang ibunya selalu nyanyikan. Ketika aku mulai bersenandung, Arimba membelalakkan matanya mengikuti gerakan tubuhku dan seketika itu kami bernyanyi bersama. Beberapa siang dan malam berikutnya adalah waktu-waktu yang tidak pernah mengecewakanku. Beberapa kali kereta awan berhenti beberapa menit untuk menaikkan penumpang. Meskipun belum pernah ada penumpang lain di gerbong kami, gerbong dua, kami tidak pernah merasa kesepian.
-- (bersambung)
teringat spring day mv...
ReplyDeletewkwkwk..
where are they going?