Friday, October 20, 2017

di bawah balkon, mengukir angin

Apa yang membuat kita menjadi kita yang sekarang ini?

Semakin kita tua, bertambah umur yang belum tentu bertambah dewasa, yang kita sadari bahwa kita hanya tumbuh dan tumbuh. Seperti pohon. Makin lama makin tinggi aja, tapi ngga bisa memastikan seperti apa bentuk tubuhnya sendiri. Sebentar lagi saya udah mau masuk setengah abad, udah lebih dari separuh jalan, tapi saya ngga merasa sedikitpun lebih baik dari yang sudah-sudah.

Apa yang membuat kita menjadi kita yang sekarang ini?

Saya selalu bertanya-tanya apa yang terjadi dan jadi orang seperti apa saya kalo saya mengambil pilihan-pilihan lain dalam hidup saya. Saya ngga akan pernah tahu. Tapi saya bersyukur kok bisa tumbuh menjadi saya yang sekarang ini, dan bersyukur atas orang-orang yang Dikirim untuk "membentuk" saya.

Pasti kita juga pernah "ditebang", tapi di lain waktu ada aja mereka yang membantu memberi "pupuk" ya. Saya ingat, sekitar sepuluh tahun lalu, ketika saya memutuskan untuk tinggal berjauhan dari orang tua dan bertemu sahabat-sahabat yang menjadi keluarga baru saya. Beberapa orang sungguh setia bertengger di hati karena saya berhasil belajar banyak dari mereka. Ketika kami mulai tinggal berjauhan, sering kali saya mencoba berpura-pura berpikir seperti mereka. Ini kejadian hampir di setiap kali saya ketemu persoalan sulit yang saya sendiri ngga tahu musti curhat ke mana. Senjata saya selama ini hanya buku harian. Dari sana saya berpura-pura menyelesaikan masalah saya sendiri. Karenanya saya selalu berpikir bahwa sebenarnya kita selalu punya jawaban atas pertanyaan dan keraguan kita.

Terus ngapain saya nulis di sini?
Ngga ada sih. Saya cuma pengen mengingatkan diri sendiri bahwa perjalanan saya sudah jauh banget. Umur saya udah deket dengan akhir, yang mana saya ngga pernah tahu kapan itu. Saya yang lebih baik ngga akan cukup kalau saya jadi diri sendiri. Yang membuat saya sejauh ini ternyata adalah berpura-pura menjadi orang lain. Orang-orang yang sekarang hampir saya ngga gitu kenal lagi.

Ah. Rindunya.

No comments:

Post a Comment