Tuesday, October 15, 2019

Ketika kita berbangga hati

Ingat tidak euforianya masyarakat kita ketika seorang presiden Amerika Serikat dilantik dan ternyata beliau punya latar belakang berbau-bau Indonesia?
Mendadak semua kenangan masa lalu, semua tempat main, rumah lama, warung-warung jajan yang dulu pernah disentuh oleh beliau mencuat jadi bahan obrolan penuh kebanggaan.

Atau waktu satu nama Indonesia muncul di antara barisan animator film populer di credit titlenya? Membanggakan emang. Bahkan untuk ukuran komunitas rakyat yang kurang apresiasi, saya rasa kita sebenernya ngga kurang-kurang amat apresiasinya terhadap prestasi anak negeri.

Tapi apresiasi beda sama "fasilitasisasi" (ada ngga sih kata ini?) sih ya. Oke itu perbincangan lain.

Ini deh. Bukan hal yang basi kan kalo kita sangat protektif terhadap kekayaan dalam negeri.
Kain-kain batik yang dulu kesannya cuma dipakai orang tua, buru-buru dirombak image-nya karena kita ngga mau tetangga kita makin gencar mengklaim kesenian itu jadi semata-mata milik mereka. Atau tempe. Atau rendang. Atau tari-tarian. Tanah dan pulau juga.

Sungguh deh. Kita ini ngga kurang rasa cinta dan bangganya terhadap tanah air.

Senin pagi kemarin (10/14), diumumkanlah penerima Nobel prize untuk bidang ekonomi (https://www.theguardian.com/business/live/2019/oct/14/nobel-prize-in-economic-sciences-2019-sveriges-riksbank-live-updates). Beliau bertiga adalah pasangan suami-istri dari MIT, Esther Duflo dan Abhijit Banerjee, dan seorang dari Harvard, Michael Kremer.
Bukan bidang saya emang. Tapi yang menarik, Bu Esther dan Pak Abhijit ini begitu konsisten menggeluti area pengentasan kemiskinan, sejak lama, awal tahun 2000-an. Dan yang lebih menarik, ngga lama setelah pengumuman pemenang prize prestisius itu, di salah satu ruang chatting saya, yang isinya akademisi di bidang saya, menyinggung peraihan Bu Esther tersebut.
Salah satu postingannya sepertinya copy-paste dari postingan orang lain yang isinya kurang lebih: "tau ngga sih, Esther Duflo ini menang hadiah Nobel karena meneliti bagaimana implementasi SD INPRES di Indonesia bisa menaikkan derajat kemakmuran rakyat secara dramatis!".
Di ujung tulisan itu bahkan ada klaim bahwa, terlepas dari fakta itu merupakan program warisan rezim Orde Baru, orang-orang di balik pembangunan kita jaman dulu malah mengantarkan orang lain meraih Nobel. Tema serupa juga diangkat artikel ini: https://www.cnbcindonesia.com/news/20191015141348-4-107139/ekonom-as-pemenang-nobel-ternyata-bahas-sd-inpres-ri.

Benarkah? Kok kesannya kita ngga rela gitu sih.

Begini lho, Bu Esther ini ngga cuma mengadakan research field di Indonesia saja, Sodara-sodara. Beliau dan suaminya mendedikasikan diri mereka begitu dalam, luas, dan lama di area pengentasan kemiskinan itu. Pencapaian mereka berdua hingga titik Nobel prize Senin pagi kemarin bukan cuma karena laporan gimana SD INPRES di Indonesia jaman 70-80an berpengaruh terhadap ekonomi suatu negara berkembang. Dan sebenarnya buanyak banget tulisan mereka yang merupakan hasil research di negara-negara berkembang lainnya.
Jadi, apa yang beliau-beliau kerjakan di bumi nusantara di tahun 2000-an kala itu cuma "drop in the ocean".
Cek deh tulisan-tulisan beliau: https://economics.mit.edu/faculty/eduflo/papers.

Boleh lah kita berbangga hati. Atau bersedih karena sebenernya bukan cuma sekali atau dua kali ini ekosistem kita diteliti oleh non-pribumi dan mereka bisa menunjukkan laporan yang begitu compact, menyeluruh, dan relevan terhadap fenomena global. Boleh kita kecewa karena kebajikan dan kebijakan nusantara kita bukan membawa jalan berbunga-bunga untuk anak negeri sendiri. Kalau mau lebih bangga lagi, sepertinya kita musti lihat dan resapi baik-baik gajah di pelupuk mata sendiri deh.

Anyway, selamat Bu Esther dan Pak Abhijit, juga Pak Michael!

Saturday, July 13, 2019

Kalau kau suka hati, tepuk tangan!

Terlalu lama. Terlalu lama, Sodara-sodara.

Pagi tadi ada bahasan yang menggelitik saya untuk nulis postingan ini. Salah satu temen deket saya, dalam sebuah grup chat yang berisi empat orang temasuk saya, bertanya:
'Rek, apa sih yang bikin kalian excited, seneng, dan bergairah?'
Pertanyaan yang umum ditanyain orang-orang masa kini ya. Tapi kebetulan sekali saya belum pernah ditanyai secara langsung. Dalam berbagai fase hidup, mungkin jawaban saya terhadap pertanyaan itu akan berbeda-beda tergantung kapan saya ditanya. Dalam rentang waktu akhir-akhir ini, satu hal yang muncul pertama kali di kepala saya, sayangnya, adalah urusan kerjaan yang sebenernya ngga menyenangkan banget juga. Tanpa mikir dua kali saya jawab: 'Ketika riset berproges dan diacknowledge sama profesor.'


Hah. Menyedihkan ya? Tapi memang itu concern terbesar saya saat ini. Dan ketika Umik Profesor saya ngasih feedback baik dengan sentuhan pujian, meskipun sedikit banget serta amat sangat jarang, mood saya jadi luar biasa ceria. Seneng dan lega banget. Terus jadi semangat dan hopeful.
Harusnya semangat ini ngga malah bikin saya berprokrastinasi. Tapi, apalah daya begitu dapet feedback, rasanya saya pengen istirahat sejenak. Lalu 'isitrahat' ini menjadi sebuah jebakan betmen berujung nestapa. Haha.

Oke, balik ke pertanyaan temen saya tadi. Saya kaget waktu yang lain jawab bahwa sesuatu yang bikin mereka bergairah dan excited adalah hal-hal seperti dengerin lagu atau baca komik. Saya jadi sedih. Tepat saat itu saya mendadak menyadari bahwa saya mungkin kurang main. Bukan berarti saya ngga bersenang-senang, lho. Saya nonton film. Saya dengerin lagu-lagu dari penyanyi favorit saya. Tapi saya ngga merasa mendapat excitement dari sana. Setelah binging Stranger Things S3 di hari kemerdekaan Amerika Serikat minggu lalu misalnya, waktu nonton sih seneng. Tapi selesainya, jadi merasa bersalah.

Jadi intinya, mungkin saya aneh ya. Sepertinya saya harus bener-bener menikmati setiap detik setiap waktu untuk mencukupi kesenangan batin. Atau jangan-jangan teman-teman yang lagi berdarah-darah menuju ujung sekolah pascasarjana juga mengalami hal yang sama?


Saturday, February 16, 2019

Arimba dan Kereta Awan (satu)

Tidak ada siapapun di dalam gerbong dua siang itu, selain Arimba. Anak laki-laki kurus itu duduk sendirian di baris kedua kursi kereta yang terbuat dari kayu, sambil bertopang dagu, dan pandangannya menerawang keluar jendela. Ada yang tahu apa yang ada di pikirannya? Aku sendiri bertanya-tanya.

Pun tidak ada yang tahu kemana Arimba menuju. Sama halnya dengan kereta awan yang sedang ia tumpangi siang itu. Tidak ada yang tahu dari mana kereta itu berasal dan sampai kapan lima gerbong seputih awan itu akan melayang-layang berkeliling semesta. Kalian mungkin tidak ada yang pernah menyadarinya. Tapi aku sudah tidak lagi terkejut saat menengadah ke atas, mendongak pada langit yang sedang cerah dan mendapatkan kereta awan melintas di atas sana.

Saat sedang beruntung, aku bisa masuk ke salah satu gerbongnya. Seperti saat ini. Di dalam gerbong dua. Di mana Arimba, anak laki-laki berumur tidak lebih dari delapan tahun, duduk terdiam sambil sesekali menahan kantuk. Jelas dia tidak menyadari kehadiranku. Atau mungkin tidak peduli. Aku ingin bertanya ke mana ia akan pergi menakiki kereta ini.  Tapi sebelum aku sempat bersuara, tiba-tiba kereta awan berdecit panjang. Lalu berhenti. Gerbong-gerbong putih ini terdiam di tengah perjalanannya. Aku panik dan tanpa berpikir panjang aku ambil langkah seribu meninggalkan gerbong dua. Kereta awan berhenti. Ini bukan pertanda baik.

Dari luar aku masih dapat melihat Arimba, masih duduk di tempat yang sama. Hanya saja kali ini dia tidak mengantuk. Duduknya tegak dan waspada. Aku belum pernah melihat kereta itu berhenti di tengah udara begini. Tujuh ribu meter di atas ladang jagung di bawah sana. Aku masih mengamati Arimba yang kini berdiri dan berjalan menuju pintu penghubung gerbong satu. Tidak ada siapa-siapa di gerbong satu. Kalian mungkin heran kenapa aku tidak pernah menyebut-nyebut lokomotifnya. Mudah saja. Karena memang tidak ada. Arimba tahu itu. Karenanya dia tidak repot-repot melintas gerbong satu, melainkan berjalan menuju arah lain, penghubung gerbong tiga.

Tadinya gerbong tiga itu kosong. Tapi kini duduk sepasang kakek-nenek di salah satu barisan kursinya. Tampaknya mereka tidak peduli bahwa kereta tengah berhenti.  Atau.. jangan-jangan karena mereka lah kereta awan berhenti sejanak? Gerbong-gerbongnya kini mulai bergerak kembali. Arimba tersenyum dan berjalan kembali ke kursinya. Cepat-cepat aku menyusul laju kereta awan dan kembali bergabung bersama Arimba di gerbong dua. Lalu untuk pertama kalinya aku memberanikan diri menggapai kursi yang sedang kosong di sisi kanan Arimba, dan untuk pertama kalinya juga Arimba menyadari kehadiranku.

'Arumi?' Arimba bersuara, menelengkan kepalanya seolah pertanyaan itu ditujukan padaku.

Kukira dia berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti saat kemudian dia bertanya lagi,

'Namamu, Arumi?'

Karena setelahnya aku tidak mengatakan apapun, sepertinya dia menganggap aku menyetujuinya.

'Akhirnya aku punya teman. Kau lihat kakek-nenek di gerbong tiga sana tadi? Mereka baru naik. Makanya tadi kereta berhenti sebentar. Beruntung sekali mereka bisa naik kereta bersama-sama. Beberapa waktu lalu aku ingin mengajak ibuku, tapi mereka bilang aku harus datang sendiri.'

Arimba ternyata bukan pendiam, tapi itu tidak lagi mengejutkanku. Sampai malam menjelang, Arimba bercerita banyak tentang segala hal tentang dirinya. Segala hal yang sebenarnya aku sudah tahu. Tapi aku tidak ingin membuatnya kecewa, sehingga aku diam saja, mendengarkan ceritanya dalam suara kanak-kanak yang selalu aku rindukan. Lagipula, aku bisa apa.

'Apa menurutmu kita akan sampai sebelum matahari kelihatan lagi, Arumi?' tanyanya lagi.

Aku memandangi wajahnya yang mungil dan menyenangkan. Paling tidak, aku ingin menenangkannya dengan berusaha tersenyum, tapi Arimba tidak melihatnya. Bulan sabit di luar sana memang lebih menarik.

'Ibuku sering menyanyikan lagu tentang bulan sebelum aku tidur,' ucapnya lirih sambil kembali bertopang dagu dan memandang ke luar jendela.

Aku terpekik karena senang. Aku tahu lagu yang ibunya selalu nyanyikan. Ketika aku mulai bersenandung, Arimba membelalakkan matanya mengikuti gerakan tubuhku dan seketika itu kami bernyanyi bersama. Beberapa siang dan malam berikutnya adalah waktu-waktu yang tidak pernah mengecewakanku. Beberapa kali kereta awan berhenti beberapa menit untuk menaikkan penumpang. Meskipun belum pernah ada penumpang lain di gerbong kami, gerbong dua, kami tidak pernah merasa kesepian.

-- (bersambung)


Monday, October 15, 2018

melingkar

kita duduk melingkar
mengelilingi meja bundar
tangan dan kaki kita dingin
lalu kita saling bergenggaman jemari
tetap diam dalam gemerisik selimut dan penghangat

kita duduk melingkar
cahaya di ujung ruangan ini berpendar
dan salah satu dari kita berikrar
jangan berpisah
jangan pergi
kita bersama sampai mati

kita duduk melingkar
dan masih terdiam

Sunday, September 23, 2018

destinasi yang jalannya ngga ada di peta

Pagi ini, salah satu WhatsApp grup (WAg) saya yang isinya rekan-rekan saya sekantor di Surabaya lagi rame banget. Biasanya kalo rame gitu karena ada problematika genting yang ngga keburu kalo musti nunggu weekly meeting Kamisan, atau ada yang ulang tahun, atau ada yang mantu, atau ada yang menang grant penelitian, atau ada kabar duka. Kali ini ramenya karena ada salah satu senior, Bu Insan (salah satu role model saya nih), yang memulai diskusi dengan cerita sedihnya yang terjadi Jumat sore kemarin.

Inti ceritanya sih gini: di sore itu salah satu mahasiswa yang udah mau masuk tahun kedua berkunjung ke ruangan Bu Insan dalam rangka pamitan. Pamitan apaan? Pamitan mau hengkang dari sekolah kami karena dia barusan ikut seleksi masuk universitas lain dan diterima dan dia bulat untuk memulai kehidupan mahasiswanya di universitas lain itu. Jadi, dia ngga akan lanjut lagi sebagai siswa di kampus kami mulai semester mendatang. Dan percayalah Sodara, anak ini ngga sendirian. Tiap taun, selalu ada aja siswa yang memutuskan banting setir begitu mau masuk tahun kedua untuk enroll di kampus lain.

Dari 150 siswa yang setiap tahun datang untuk belajar bersama kami, di tahun berikutnya bisa jadi ada 20-an orang yang hengkang demi masa depan yang mereka anggap lebih baik. Ini yang membikin Ibu Senior saya itu bersedih hati. Emang bukan cerita baru sih, tapi setiap hal kaya gini kejadian, rasanya menohok sekali. Bukan apa-apa, mereka-mereka yang meninggalkan kami itu umumnya bukan mereka yang struggling secara akademik maupun keuangan. Dengan indeks prestasi (IP) di atas 3.6 di tahun pertama, kam sangat berharap mereka bisa menjadi motivasi untuk institusi dan rekan-rekan siswa yang lain.

Well, I know GPA is not everything you need to have a bright future. Tapi paling engga kita bisa lihat potensi anak-anak didik kita dari sana lah, sedikit banyak. Selain itu, dengan kepergian satu orang siswa, artinya akan ada satu kursi kosong di universitas negeri yang tersia-sia dianggurin gitu aja, sementara setahun lalu ketika mereka rebutan posisi ini lewat SNMPTN/SBMPTN, kompetisinya ngga main-main. Sayang amat.

Jadi, kenapa mereka pergi?