Ingat tidak euforianya masyarakat kita ketika seorang presiden Amerika Serikat dilantik dan ternyata beliau punya latar belakang berbau-bau Indonesia?
Mendadak semua kenangan masa lalu, semua tempat main, rumah lama, warung-warung jajan yang dulu pernah disentuh oleh beliau mencuat jadi bahan obrolan penuh kebanggaan.
Atau waktu satu nama Indonesia muncul di antara barisan animator film populer di credit titlenya? Membanggakan emang. Bahkan untuk ukuran komunitas rakyat yang kurang apresiasi, saya rasa kita sebenernya ngga kurang-kurang amat apresiasinya terhadap prestasi anak negeri.
Tapi apresiasi beda sama "fasilitasisasi" (ada ngga sih kata ini?) sih ya. Oke itu perbincangan lain.
Ini deh. Bukan hal yang basi kan kalo kita sangat protektif terhadap kekayaan dalam negeri.
Kain-kain batik yang dulu kesannya cuma dipakai orang tua, buru-buru dirombak image-nya karena kita ngga mau tetangga kita makin gencar mengklaim kesenian itu jadi semata-mata milik mereka. Atau tempe. Atau rendang. Atau tari-tarian. Tanah dan pulau juga.
Sungguh deh. Kita ini ngga kurang rasa cinta dan bangganya terhadap tanah air.
Senin pagi kemarin (10/14), diumumkanlah penerima Nobel prize untuk bidang ekonomi (https://www.theguardian.com/business/live/2019/oct/14/nobel-prize-in-economic-sciences-2019-sveriges-riksbank-live-updates). Beliau bertiga adalah pasangan suami-istri dari MIT, Esther Duflo dan Abhijit Banerjee, dan seorang dari Harvard, Michael Kremer.
Bukan bidang saya emang. Tapi yang menarik, Bu Esther dan Pak Abhijit ini begitu konsisten menggeluti area pengentasan kemiskinan, sejak lama, awal tahun 2000-an. Dan yang lebih menarik, ngga lama setelah pengumuman pemenang prize prestisius itu, di salah satu ruang chatting saya, yang isinya akademisi di bidang saya, menyinggung peraihan Bu Esther tersebut.
Salah satu postingannya sepertinya copy-paste dari postingan orang lain yang isinya kurang lebih: "tau ngga sih, Esther Duflo ini menang hadiah Nobel karena meneliti bagaimana implementasi SD INPRES di Indonesia bisa menaikkan derajat kemakmuran rakyat secara dramatis!".
Di ujung tulisan itu bahkan ada klaim bahwa, terlepas dari fakta itu merupakan program warisan rezim Orde Baru, orang-orang di balik pembangunan kita jaman dulu malah mengantarkan orang lain meraih Nobel. Tema serupa juga diangkat artikel ini: https://www.cnbcindonesia.com/news/20191015141348-4-107139/ekonom-as-pemenang-nobel-ternyata-bahas-sd-inpres-ri.
Benarkah? Kok kesannya kita ngga rela gitu sih.
Begini lho, Bu Esther ini ngga cuma mengadakan research field di Indonesia saja, Sodara-sodara. Beliau dan suaminya mendedikasikan diri mereka begitu dalam, luas, dan lama di area pengentasan kemiskinan itu. Pencapaian mereka berdua hingga titik Nobel prize Senin pagi kemarin bukan cuma karena laporan gimana SD INPRES di Indonesia jaman 70-80an berpengaruh terhadap ekonomi suatu negara berkembang. Dan sebenarnya buanyak banget tulisan mereka yang merupakan hasil research di negara-negara berkembang lainnya.
Jadi, apa yang beliau-beliau kerjakan di bumi nusantara di tahun 2000-an kala itu cuma "drop in the ocean".
Cek deh tulisan-tulisan beliau: https://economics.mit.edu/faculty/eduflo/papers.
Boleh lah kita berbangga hati. Atau bersedih karena sebenernya bukan cuma sekali atau dua kali ini ekosistem kita diteliti oleh non-pribumi dan mereka bisa menunjukkan laporan yang begitu compact, menyeluruh, dan relevan terhadap fenomena global. Boleh kita kecewa karena kebajikan dan kebijakan nusantara kita bukan membawa jalan berbunga-bunga untuk anak negeri sendiri. Kalau mau lebih bangga lagi, sepertinya kita musti lihat dan resapi baik-baik gajah di pelupuk mata sendiri deh.
Anyway, selamat Bu Esther dan Pak Abhijit, juga Pak Michael!
Mendadak semua kenangan masa lalu, semua tempat main, rumah lama, warung-warung jajan yang dulu pernah disentuh oleh beliau mencuat jadi bahan obrolan penuh kebanggaan.
Atau waktu satu nama Indonesia muncul di antara barisan animator film populer di credit titlenya? Membanggakan emang. Bahkan untuk ukuran komunitas rakyat yang kurang apresiasi, saya rasa kita sebenernya ngga kurang-kurang amat apresiasinya terhadap prestasi anak negeri.
Tapi apresiasi beda sama "fasilitasisasi" (ada ngga sih kata ini?) sih ya. Oke itu perbincangan lain.
Ini deh. Bukan hal yang basi kan kalo kita sangat protektif terhadap kekayaan dalam negeri.
Kain-kain batik yang dulu kesannya cuma dipakai orang tua, buru-buru dirombak image-nya karena kita ngga mau tetangga kita makin gencar mengklaim kesenian itu jadi semata-mata milik mereka. Atau tempe. Atau rendang. Atau tari-tarian. Tanah dan pulau juga.
Sungguh deh. Kita ini ngga kurang rasa cinta dan bangganya terhadap tanah air.
Senin pagi kemarin (10/14), diumumkanlah penerima Nobel prize untuk bidang ekonomi (https://www.theguardian.com/business/live/2019/oct/14/nobel-prize-in-economic-sciences-2019-sveriges-riksbank-live-updates). Beliau bertiga adalah pasangan suami-istri dari MIT, Esther Duflo dan Abhijit Banerjee, dan seorang dari Harvard, Michael Kremer.
Bukan bidang saya emang. Tapi yang menarik, Bu Esther dan Pak Abhijit ini begitu konsisten menggeluti area pengentasan kemiskinan, sejak lama, awal tahun 2000-an. Dan yang lebih menarik, ngga lama setelah pengumuman pemenang prize prestisius itu, di salah satu ruang chatting saya, yang isinya akademisi di bidang saya, menyinggung peraihan Bu Esther tersebut.
Salah satu postingannya sepertinya copy-paste dari postingan orang lain yang isinya kurang lebih: "tau ngga sih, Esther Duflo ini menang hadiah Nobel karena meneliti bagaimana implementasi SD INPRES di Indonesia bisa menaikkan derajat kemakmuran rakyat secara dramatis!".
Di ujung tulisan itu bahkan ada klaim bahwa, terlepas dari fakta itu merupakan program warisan rezim Orde Baru, orang-orang di balik pembangunan kita jaman dulu malah mengantarkan orang lain meraih Nobel. Tema serupa juga diangkat artikel ini: https://www.cnbcindonesia.com/news/20191015141348-4-107139/ekonom-as-pemenang-nobel-ternyata-bahas-sd-inpres-ri.
Benarkah? Kok kesannya kita ngga rela gitu sih.
Begini lho, Bu Esther ini ngga cuma mengadakan research field di Indonesia saja, Sodara-sodara. Beliau dan suaminya mendedikasikan diri mereka begitu dalam, luas, dan lama di area pengentasan kemiskinan itu. Pencapaian mereka berdua hingga titik Nobel prize Senin pagi kemarin bukan cuma karena laporan gimana SD INPRES di Indonesia jaman 70-80an berpengaruh terhadap ekonomi suatu negara berkembang. Dan sebenarnya buanyak banget tulisan mereka yang merupakan hasil research di negara-negara berkembang lainnya.
Jadi, apa yang beliau-beliau kerjakan di bumi nusantara di tahun 2000-an kala itu cuma "drop in the ocean".
Cek deh tulisan-tulisan beliau: https://economics.mit.edu/faculty/eduflo/papers.
Boleh lah kita berbangga hati. Atau bersedih karena sebenernya bukan cuma sekali atau dua kali ini ekosistem kita diteliti oleh non-pribumi dan mereka bisa menunjukkan laporan yang begitu compact, menyeluruh, dan relevan terhadap fenomena global. Boleh kita kecewa karena kebajikan dan kebijakan nusantara kita bukan membawa jalan berbunga-bunga untuk anak negeri sendiri. Kalau mau lebih bangga lagi, sepertinya kita musti lihat dan resapi baik-baik gajah di pelupuk mata sendiri deh.
Anyway, selamat Bu Esther dan Pak Abhijit, juga Pak Michael!