Sunday, September 3, 2017

aku ingin jadi kuat!

Orang Indonesia, ngga cuma satu atau dua yang pernah merantau ke negeri lain, entah buat sekolah, kerja, atau hijrah aja mengikuti suami atau istri kerja. Ngga satu atau dua atau tiga. Udah ribuan. Jutaan mungkin kalau kita hitung dari jaman sebelum kemerdekaan. Kenapa sih mereka mau repot-repot begitu? Nothing feels like home, kan. Kenapa pada mau susah payah mengadu nasib di tempat jauh, yang bahasanya kita ngga ngerti-ngerti amat, makanannya ngga enak, kamar mandinya ngga punya gayung, bahkan mungkin jarang ada angkot juga. Kenapa?

Nekat.

Bahkan buat anak-anak yang baru lulus SMA dan dikirim orang-tua mereka yang super kaya untuk lanjut sekolah ke negeri jauh, pasti ada masa mereka sedih-sedih meninggalkan "rumah" -- apapun itu definisinya.

Kenekatan itu akan berlangsung seterusnya, melekat bulan dan tahun. Bahkan mungkin selamanya. Kenekatan yang bikin kita ketagihan untuk menantang limit diri sendiri. Saya ngga punya bukti saintifiknya sih, tapi menurut saya: semakin jauh dan lama kita merantau, sebaik-baiknya hikmah adalah semakin mengenali diri sendiri. Mereka yang memaksa diri sendiri untuk loncat ke tempat yang lebih tinggi dengan risiko jatuh yang lebih keras dan sakit adalah mereka yang siap menghadapi dan mengalahkan diri sendiri. Bisa jadi kita kalah. Bisa jadi kita naik level. Bisa jadi lebih parah: turun level dan introspeksi, mengoreksi strategi. Ini udah kaya seri-nya Naruto aja lah. Tapi ya mungkin ngga selalu jadi lebih kuat setiap kali ketemu musuh baru dan dapat kekuatan baru ya. Ngga melulu kita menang. Tapi ngga usah khawatir, karena "pekelahian" ini lawannya diri sendiri aja kok.

Sendiri.

Lalu?
Saya ngga ngerti juga ini sebenarnya mau ngapain. Saya tadinya mau cerita tentang hari-hari pertama ngerasain kulian di negeri orang. Tapi jadi kok jadi curcol tentang pergolakan mental pribadi. Haha.
Jadi ceritanya nanti kapan-kapan ya, dengan judul lain tentunya!

No comments:

Post a Comment