Sunday, December 25, 2016

Antara Bandung, Blok M, dan Manhattan (Part 1: Fantastic Babies)

Syubidu bidu ppaaaaa..
Yang saya mau ceritakan ini, pasti deh sudah banyak dialami banyak orang. Dari suatu pertemuan biasa yang kita anggap angin lalu, bisa jadi berkembang menjadi silaturahmi yang panjang melintang bukan kepalang, dan seringnya, menyenangkan.

Ini kejadian sudah agak lama sih. Bagi dosen-dosen muda yang baru merintis karir dan cenderung pecicilan (baca: suka ikut kegiatan workshop ini itu, terutama yang berbau-bau dibayari nginep di hotel bagus, hehe), istilah DIKTI Talent Scouting mungkin bukan asing lagi. Kegiatannnya diadakan tiap tahun di beberapa sentra di Indonesia, biasanya dimulai di bulan Maret atau April begitu. Kegiatannya sendiri sederhana, seminar dan kuliah umum mengenai strategi untuk mendapatkan beasaiswa dan kuliah di luar negeri (ini linknya ya, bagi yang ingin memantau kegiatan Talent Scouting tahun-tahun mendatang: http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/)

Bersama dengan partner pecicilan saya, Jeung Di, kami join Talent Scouting awal tahun 2016 lalu. Dari sana, kita jadi kenal banyak dosen lain dari berbagai daerah di Jawa Timur, terutama yang Ibu-ibu. Di akhir kegiatan, kami diminta mengikuti test IELTS-like di kelas untuk placement kegiatan lanjutan, yaitu training IELTS yang akan diadakan beberapa bulan berikutnya. Saya dan Jeung Di ternyata memang harus diasah betul kemampuan Bahasa Inggris kami karena eventually kami berdua dipanggil untuk ikut training IELTS. Tapi saya berangkat duluan, beda dua bulan lah sama Jeung Di.
Training tiga bulan. Di ITB. Bebas ngajar. Fokus belajar IELTS. Luar biasa. Waktu untuk persiapan keberangkatannya pun singkat nian, hanya dua minggu, dan itu termasuk libur Lebaran 2016. Sungguh staf DIKTI itu staf yang tidak kenal lelah ya. Sangat berdedikasi. Saya sih bukan staf DIKTI, tapi karena kesempatan jadi mahasiswa ITB selama tiga bulan kan bukan kesempatan yang tiap hari datang. Jadi yaa, saya ikutan rajin seperti staf DIKTI. Heheh.

Saya akui, saya sendiri bukan orang yang gampang berkawan. Tiap kali masuk lingkungan baru, selalu ada kekhawatiran apakah saya cocok dengan atmosfer orang-orang di lingkungan baru itu. Tapi saya bersyukur karena hampir ngga ada satupun orang yang saya kenal ada dalam list peserta training IELTS tersebut. Ada sih yang saya familiar dengan nama-namanya karena mereka ikut Talent Scouting bareng saya, tapi ngga kenal sama sekaliiii. Kenapa saya seneng ngga ada yang saya kenal? Karena itu berarti saya ngga akan cenderung untuk main sama orang-orang tertentu dari awal. Dan kesempatan berkawan itu pun menciut, karena dari sekian puluh yang diundang ikut training, hanya 16 yang menampakkan diri di hari pertama training, dan hari-hari berikutnya.

Kebanyakan udah pada jago Bahasa Inggrisnya. Saya sendiri termasuk satu di antara dua orang yang belum pernah tes IELTS official. Jangankan tesnya, IELTS-nya aja masih tergolong unfamiliar di kuping saya. Saya sih ngerasa masuk di golongan orang-orang yang paling struggle selama training tiga bulan itu. Tapi nothing to lose, lah. Keep going sajaaah J

Yang paling berkesan dari kelas training ber-16 ini, selain belajar bersamanya (yang mana cuman terjadi selama jam training), adalah hang-out barengnya. Wisata kuliner dan jalan-jalan adalah kegiatan yang hampir tak terpisahkan di tiap sore sepulang training atau saban Sabtu-Minggu.
Jalan-jalan paling heboh kalau boleh dibilang yaitu waktu kami ber-16 pergi ke Ciwidey. Kepergian yang direncanakan dengan musyawarah mufakat penuh khidmat selama dua bulan itu akhirnya terlaksana menjelang detik-detik akhir waktu kursus tiga bulan. Seru sangat tuh. Seharian itu kami pergi ke Kawah Putih (untuk foto-foto dan batuk-batuk). Setelah itu kami mampir ke.. aduh ke mana ya kok mendadak lupa namanya. Pokoknya kita bisa mampir makan indomie, jagung bakar, dan numpang sholat lah di destinasi kedua itu. Plus ngobrol-ngobrol, yang seperti biasa, selalu berakhir menjadi diskusi mendalam. Ngga perlu diceritakan lah ya materi diskusinya, fufufufuuu. Setelah agak kenyang, kami jalan lagi ke Situ Patenggang. Dengan penuh perjuangan dan perundingan alot, akhirnya beberapa dari kami, termasuk saya, berhasil naik perahu menyisiri danau, merapat sebentar di dekat batu prasasti Situ Patenggang (betul ngga ya namanya) untuk foto-foto kemudian balik lagi ke pos awal untuk perjalanan pulang.

Saya mau cerita sedikit soal perundingan-perahu di Situ Patenggang kala itu. Dari awal kami turun mobil, udah banyak Bapak-bapak yang nawari sewa perahu dengan beragam paket. Tapi mihil-mihil. Begitu ada yang agak lumayan reasonable kalau dibagi 16, ternyata ngga semua ber-16 mau naik perahu. Hahahah. Akhirnya kami memulai perundingan baru. Jagoan negosiasi kami, Jeung Jat, pun beraksi. Pahit-pahitnya kalau perundingan tidak ketemu kata sepakat, saya mau sewa perahu bebek aja, saking pengennya melintasi danau pakai perahu niiih. Tapi ternyata negosiasi Jeung Jat dengan Bapak makelar sewa perahu berjalan mulus. Dan kita pun bisa naik perahu dengan gembira dan harga yang ngga terlalu bikin mewek.

Training tiga bulan tersebut diakhiri dengan tes IELTS dari British Council di tanggal 10 dan 11 Oktober 2016. Kalau saya sendiri sih ngerasa bekal selama tiga bulan masih kurang untuk memasuki medan tempur. Tapi ya masak mau ngulang tiga bulan lagi. Ogaaah.. Yang pasti saya ingat, di hari pertama tes IELTS itu, jalanan sekitaran ITB macet luar biasa. Asli bikin bete. Selebihnya hanya tepar. Bangun-bangun udah esok hari dan harus mengahadapi tes hari kedua untuk part speaking. Karena saya dapat giliran pertama, yang mana amat sangat saya syukuri, saya pun langsung ngacir begitu saya beres tes. Agak nyesel juga tuh, saya udah pakai batik biru-biru seperti janjian dengan temen-temen lainnya buat foto terakhir pakai batik kembaran, tapi saya ngga keburu nyusul balik ke kampus untuk foto-fotonya. Maaf ya teman-teman..

Untuk menebus kelalaian saya, saya bikinin video ini. Bikinnya agak asal sih, keburu dikejar deadline kerjaan lain, hihi.

Semua mengira cerita kami ber-16 sudah berakhir sampai di sana. Salah besar. Cerita lebih seru lagi baru akan dimulai dengan jalan yang sungguh ngga ada di antara kami yang menyangka. Sampai jumpa di Part 2 J

No comments:

Post a Comment