Wednesday, June 22, 2016

another Fulbright scholarship story (part 1)

Buanyak banget tulisan yang beredar tentang beasiswa ini. I know. Saya hanya menyemarakkan saja.
Jadi, sudah sekitar setahun inilah, saya mulai jadi anggota cabe-cabean (istilah buat para pencari beasiswa, terutama luar negeri) aktif. Saya mulai karir saya sebagai cabe-cabean dengan mencoba daftar LPDP (lolos tapi batal berangkat). Sebelumnya saya daftar lowongan PhD di salah satu negara di Eropa, tapi ngga ada kabar juga (udah nyaris setahun, lupakan saja lah). Yang paling gres ya ini, saya melamar beasiswa Fulbright. Saya sudah sangat ingin sekali banget mendaftar beasiswa ini sejak tiga tahun lalu, tapi belum pernah ada aksi, alias omong dan kepingin doang. Alhamdulillah akhirnya hidayah Didatangkan kepada saya dan meskipun disiapkan dalam waktu yang teramat singkat, akhirnya saya berhasil mengirimkan berkas lamaran beasiswa ini ke AMINEF dan DIKTI. Buah dari kemepetan itu ialah saya harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk bisa menyertakan dua paket berkas ke dua kantor yang berbeda dalam semalam. Saya pasrah kuadrat deh.

Enam minggu setelah pengiriman berkas, pengumuman yang ditunggu-tidak-ditunggu-tidak itu datang juga. Saya sama sekali tidak menyangka bisa termasuk dalam daftar pelamar beasiswa yang dipanggil untuk seleksi wawancara. Pemberitahuan ini datang dua minggu sebelum hari-H wawancara. Bahagia dan panik rasanya. Setelah mengirim berkas enam minggu sebelumnya, saya engga menyiapkan apa-apa karena sudah pasrah rasanya tidak mungkin lolos, sampai-sampai saya ikut arus melamar beasiswa lain dari DIKTI (pernah dengar BUDI-LPDP? kapan-kapan deh). Dua minggu, saya mencoba menenangkan sekaligus membekali diri dengan googling. Yang ada makin panik sih, habis yang saya temui itu cerita-cerita interview yang aduhai seram. Mulai dari panelis interviewer yang jumlahnya selusin; ada yang bilang bule semua; ada yang bilang nanti salah satu interviewer ada yang khusus bidangnya di bidang riset yang kita ajukan; dan macam-macam lagi. Hari-hari menjelang wawancara itu jadi hari-hari paling mules. Saya kebagian slot wawancara hari Selasa, 21 Juni di salah satu hotel di Jakarta. Hari Kamis minggu sebelumnya, AMINEF sudah mengirimkan tiket pesawat roundtrip dan janji uang saku (yang terakhir ini belum ada kabarnya sampai saya nulis cerita ini, tapi apapun ngga masalah sih jadi dikasih atau engga, dapat kesempatan wawancara aja udah seneng bangggget). Males ribet, hari itu juga saya pesen kamar di hotel yang sama via travel agent online cap burung. Dan, weekend itu pun menjadi weekend yang amaaaat mencekam.

Hari Senin, 20 Juni saya naik pesawat jam 7 pagi. Semata-mata karena kebiasaan, saya ngga berpikir panjang untuk ambil bis Damri, malah langsung nuju antrian orang yang mau naik taksi begitu saya keluar terminal kedatangan. Sadarnya ketika terjebak macet di kisaran Grogol. Haha. Cupu sangat. Buh-bye beberapa lembar alat tukarku. Semoga bermanfaat untukmu wahai pak supir taksi. Nyampe hotel, saya musti tunggu kamar saya disiapin karena agak kepagian. Acara menunggu itu saya manfaatkan untuk mengamati orang-orang yang lalu lalang di lobby hotel. Pikiran saya cuman satu: itu orang mau wawancara juga ngga ya? Atau kalau yang lewat bule: itu orang yang nanti jadi interviewer bukan ya? Duile, masa iya orang-orang urusannya sama semua. 

Rencananya, begitu masuk kamar saya pengen langsung belajar: nge-list pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dan nyiapin jawabannya, sekaligus latihan. Ya iyalahh pake latihan, ini saya punya basa Inggris culun banget deh. Makanya dua minggu menjelang wawancara itu, saya getol sekali nonton ulang serial The Big Bang Theory  season 8 sama 9 ngga pake subtitle. Nonton Agents of SHIELD juga, tapi kalo yang satu ini kudu pake subtitle, habis Inggrisnya keriting, ngga paham saya. Ohya, subtitlenya Inggrisan dong. Buat Bapak Ibu Mas Mba sekalian yang mau asah Inggrisan nya via nonton serial atau film, ngga usah lah pakai subtitle bahasa ibu, bikin otak kita kerja dua kali. Itu menurut saya sih.
Jadi, singkatnya, saya sempet sih belajar dikiiit siang itu, tapi ngga lama saya musti cuss ke Plaza Semanggi untuk.. untuk apa hayo? Ya untuk hengot bareng genggong di Jakarta lah. Muhahaha. Begitu udah kumpul, lupa lah semua tentang wawancara. Gimana entar deh. Hihi. Yang ini jangan dicontek ya. Terus belajarnya kapan? Masih sempet kok, malem belajar bentar. Terus ketidurannya lama. Bangun-bangun belajar lagi, sambil berurai air mata penyesalan. Huhu.  

Saya udah siap di venue sejam sebelum jam wawancara. Udah ada beberapa orang yang antri. Semuanya bertangan dingin. Harfiah lho ini. Karena hall nya emang dingin banget, dan juga karena nervous ngga karuan mau diwawancara, sih. Begitu tiba giliran saya: kaki ini lemes, timbul keinginan untuk nangis di tempat klesotan pundung ngga mau masuk ruangan wawancara. Tapi itu ngga mungkin, ya kan. Dengan berat, saya masuk ruangan wawancara. Di dalem sudah ada 3 orang interviewer: 2 orang Bapak-bapak Indo, yang satu udah lumayan senior, yang satu lagi masih muda, kayanya, yang membuat saya bertanya-tanya ini orang udah nikah apa belum ya syalala (belakangan saya tahu dua-duanya dosen dari salah satu institut teknologi paling kece di negeri ini) dan satu bule cewek. Setelah duduk, saya dipersilakan untuk menyampaikan introduction, background saya, research proposal saya in brief, dan kenapa saya pengen sekolah ke Amerika. Selanjutnya tanya-jawab yang lumayan asyik juga, dan ternyata: dua puluh menit itu ngga berasa, Sodara-sodara. Ini nih list pertanyaan yang saya dapet waktu wawancara kemarin:
1. Iintroduction, background, research proposal in brief, dan kenapa pengen sekolah ke Amerika --> ini ngga pake pertanyaan, kita disuruh nyerocos aja udah mereka ngga ada nyela
2. Apa yang perlu kamu pelajari untuk membuat proposal riset ini jadi nyata? 
3. Jelasin lagi dong proposal riset ini dengan bahasa yang sederhana? 
4. Apa manfaatnya riset ini nanti kalau kamu kembali ke Indo? Kalau kembali ke institusi? 
5.  Selain studi, kamu mau ngapain lagi di Amerika? Having fun macem apa yang kamu pengen lakukan di sana? 
6. Apa isu yang menurut kamu nanti akan jadi challenge kamu hidup di sana?
7. Ceritakan pengalaman kamu memimpin sebuah grup?
8. Mau jadi apa kamu 10 tahun lagi?
10. Kenapa pilih universitas ini? Udah punya alternatifnya?

Selesai. Keluar ruangan. Badan ini serasa melayang. Apa yang membuat tidur saya gelisah selama dua minggu akhirnya lewat jugaa.. syubidu bidu paraa.

Hasilnya akan keluar 3 atau 4 minggu lagi. Udah, pasrah sepasrah-pasarahnya. Bukannya kalau rejeki ngga akan meleset dan selalu tepat pada waktunya, ya kan. Kalaupun saya ngga lolos sekarang, saya ngga akan kapok untuk nyoba lagi tahun depan, insyaAllah.
Sambil menunggu pengumuman, mari yuk kita apply beasiswa lain lagi. Hehehe.

2 comments:

  1. Kereeenn..aih mbak shof, pingin ngerti ekspresimu saat badan lemes melayang keluar dr ruangan interview. Hehee. All the best for you. Hopefully, it will be the last moment for interview, it's mean..

    ReplyDelete
  2. aaaamiin Mba for best wishes nya.
    haha, I'll show you kapan2 Mba. mari Mba, jadi cabe2an bersama.

    ReplyDelete