aku mengenal luka sejak
seminggu yang lalu. kami berkenalan di belakang halaman gymnasium sekolahku.
jelas luka tidak sekolah. dia buta. seperti kata teman-teman ibuku, anak buta
mana bisa sekolah. kakak laki-lakiku, satu sekolah denganku hanya beda satu
tingkat, melihat kami berdua bermain di belakang gymnasium sore itu dan serta
merta menghalau permainan kami, dia menyuruhku meninggalkan luka di sana.
sendirian.
aku mendengar luka bertanya, ‘kapan main lagi?’
aku bilang, ‘nanti, luka. nanti lagi’.
esoknya, aku mencari luka tapi tidak juga
kutemukan, di manapun. aku bukan pencari yang baik. tapi pendengaranku tajam.
sekali aku mengenal luka, aku yakin sekali dapat menghafal suara gemeresek
langkahnya. aku tidak bisa tidak mencari luka setiap pulang sekolah, jam 15.30.
kalau kakakku tahu, dia akan menarikku pulang bersamanya. setiba di rumah, aku
merengek supaya diperbolehkan main dengan luka setiap hari. ibu sama tidak
sabarnya dengan kakak laki-lakiku. dia bilang lebih baik aku langsung pulang
saat jam sekolah berakhir.
‘atau perlu mama jemput setiap hari?’ tanya ibuku
suatu kali, di ujung diskusi kami mengenai aku-ingin-main-dengan-luka-lagi.
tentu aku menolak. tidak ada anak kelas empat mana pun yang dijemput ibunya
tiap pulang sekolah.
‘aku ajak luka ke rumah saja, kalau begitu’.
ibuku diam.
aku belum pernah mengajak teman sekolahku ke
rumah, bahkan saat taman kanak-kanak sekalipun. ayahku lebih konservatif
daripada ibuku. dia bilang, luka boleh ke rumah asal aku dan dia tidak bikin
rusuh. aku tertawa dan berjanji tidak akan begitu. ibu dan kakakku tersenyum.
aku tahu itu.
baru kemarin aku menemukannya lagi di halaman gym.
aku senang sekali. agaknya luka juga. kami main tangan-kaki-tangan-kaki. kakakku
mengawasi kami sambil bertopang dagu bosan. luka dan aku berkejaran sebentar
dan berhenti karena aku terjatuh, terantuk batu. kakakku segera melakukan
penyelamatan yang sia-sia. lututku berdarah. sedikit awalnya. tapi makin lama
makin banyak.
bu sarah, guru ipa kakakku yang kebetulan belum
pulang, mangantar kami ke rumah dengan mobilnya. kakakku menjelaskan dengan
suara tidak sabarannya, ngoceh soal hemofili yang kuderita. aku tidak menangis.
lagipula memang tidak sakit. tapi kakakku agak berlebihan, sampai dia tidak
menyadari aku menggendong luka sepanjang perjalanan pulang.
darah mulai berhenti mengalir dari lututku
berjam-jam setelah aku terjatuh. ibu dan ayahku sejak tadi meremas-remas
tanganku. aku mendengar mereka bicara soal suntik dan transfusi segala macam.
bosan sekali. aku baru merasa sakit di sekujur lengan karena jarum, lalu memar
di lututku nyeri juga kalau dipikir-pikir. di atas semua itu, aku merasa sangat
sehat karena luka menemaniku sepanjang malam.
aku mendengar dia bilang, ‘sepertinya sakit’.
aku hanya menyeringai, tapi menyadari dia tidak
bisa melihat, kukatakan padanya, ‘engga kok’.
ibuku mengomeliku pelan ketika aku bangun pagi
tadi. dia bilang aku tidak boleh lari-larian.
‘mama antar luka pulang, ya,’ katanya akhirnya.
jelas tidak bisa kubiarkan.
‘hari ini kan aku absen sekolah, biar aku main
sama luka di rumah, ya ma’, aku merajuk.
‘kalau kamu berdarah lagi karena luka, mama akan
buang,’
aku tahu ibuku sedikit kejam kali ini. yang jelas
aku sakit hati. yang aku tidak tahu adalah bagaimana persaaan luka jika dia
tahu apa maksud ibuku. kudengar dia mengeong manja di dekat perutku. aku
merasakan bibirku mengerucut tanda tidak setuju, tapi ibuku berlalu
meninggalkan aku dan luka berdua. aku merasa menang. artinya ibuku tidak
sungguh-sungguh dengan kata-katanya barusan.
*
aku tidak main dengan luka. badanku masih
nyeri-nyeri, jadi aku tiduran saja sepanjang hari, ditemani luka. siangnya aku
bangun tidur dengan kebahagiaan yang lebih besar daripada pagi tadi. aku
panggil-panggil luka, karena aku tidak merasakan dia di sekitarku. belum sempat
aku beranjak dari tempat tidur, ayahku datang.
‘mana luka, pa?’
‘papa titip di rumah tante dulu, tunggu kamu
sembuh, boleh main sama dia lagi, setuju?’
ini bukan kesepakatan. luka dibawa paksa ketika
aku tidak menjaganya. aku kesal sekali.
‘mungkin kuku luka perlu dipotong dan dibersihkan
dulu,’ ayahku bernegosiasi.
aku kesal dan tidak bisa berkata apa-apa.
saking kesalnya aku menangis. ini bukan
kesepakatan. aku tahu luka tidak akan pernah dibawa kembali padaku. aku punya
perasaaan kali ini, tidak akan mudah menemukan luka kembali.
benar, aku hanya bisa merasa dan merasa. aku buta, teman. sama seperti luka.
bogor8mei2009
No comments:
Post a Comment