life never stops until death comes.
it keeps walking, or running, and sometimes rolling -- in many time, it's uncontrollable.
dua puluh tahun lalu, hal yang dekat dengan telinga saya hanyalah lagu anak-anak, dongeng Cinderella dan lagu Ben-nya Michael Jackson. saat itu, hingga beberapa belas tahun setelahnya, saya berpikir sesuatu seperti pernikahan dan kematian sepertinya bukan hal yang akan saya temui. saya menganggapnya sebagai urusan orang tua. kondangan dan ngelayat, itu kan kerjaan bapak atau ibu saya, pikir saya jaman saya masih pipis sambil berdiri itu.
lalu tibalah hari kelahiran adek saya yang bontot. pas malem ibu saya melahirkan itu, kakek saya masuk rawat inap di rumah sakit yang sama. seminggu setelah adek saya lahir, kakek saya meninggal. semua sedih. semua menangis. saya ngga bisa nangis, mungkin karena itu kali pertama saya kehilangan anggota keluarga.
kemudian waktu bergulir, makin banyak anggota keluarga kami yang sudah renta atau sakit akhirnya berpulang. kakek, nenek, kakek, paman, bibi, sepupu.
selepas kelulusan SMA satu persatu undangan nikahan berdatangan. kemudian ada kematian. di sela-selanya undangan pernikahan. lalu kelhairan anak-anak teman. pernikahan sepupu-sepupu. kelahiran anak sepupu-sepupu. lingkaran saya sudah bukan lingkaran orang-orang yang mengajak saya main lompat tali atau masak-masakan atau power renjes-power renjesan. lingkaran saya sekarang jadi lingkaran yang obrolannya tentang nikahan, kerja apa, gaji tanggal berapa, anak berapa. ahh..
ketika seseorang merasa waktunya tidak pernah cukup atau tidak siap menghadapi sedetik setelah detik ini, adalah orang yang telah menyia-nyiakan waktu. ketika waktunya berjalan, dia santai. waktunya berlari, dia jalan santai. waktunya berguling-guling tak tentu arah, dia masih saja santai. sia-sia betul ya.
heu. tapi itulah yang banyak terjadi di sebagian waktu saya.
jangan sampai ada yg bilang 'saya juga' ya. awas. nikmati dan manfaatkan the walking-running-rolling life Anda.
yosh. jadi semangat lagi nih. asik!
lalu tibalah hari kelahiran adek saya yang bontot. pas malem ibu saya melahirkan itu, kakek saya masuk rawat inap di rumah sakit yang sama. seminggu setelah adek saya lahir, kakek saya meninggal. semua sedih. semua menangis. saya ngga bisa nangis, mungkin karena itu kali pertama saya kehilangan anggota keluarga.
kemudian waktu bergulir, makin banyak anggota keluarga kami yang sudah renta atau sakit akhirnya berpulang. kakek, nenek, kakek, paman, bibi, sepupu.
selepas kelulusan SMA satu persatu undangan nikahan berdatangan. kemudian ada kematian. di sela-selanya undangan pernikahan. lalu kelhairan anak-anak teman. pernikahan sepupu-sepupu. kelahiran anak sepupu-sepupu. lingkaran saya sudah bukan lingkaran orang-orang yang mengajak saya main lompat tali atau masak-masakan atau power renjes-power renjesan. lingkaran saya sekarang jadi lingkaran yang obrolannya tentang nikahan, kerja apa, gaji tanggal berapa, anak berapa. ahh..
ketika seseorang merasa waktunya tidak pernah cukup atau tidak siap menghadapi sedetik setelah detik ini, adalah orang yang telah menyia-nyiakan waktu. ketika waktunya berjalan, dia santai. waktunya berlari, dia jalan santai. waktunya berguling-guling tak tentu arah, dia masih saja santai. sia-sia betul ya.
heu. tapi itulah yang banyak terjadi di sebagian waktu saya.
jangan sampai ada yg bilang 'saya juga' ya. awas. nikmati dan manfaatkan the walking-running-rolling life Anda.
yosh. jadi semangat lagi nih. asik!
No comments:
Post a Comment